Menyikapi Bullying pada Kaum Milenial

0
797
Febiola Utami

Oleh : Febiola Utami
Mahasiswa FISIP, UMRAH Tanjungpinang

Bullying adalah perilaku seseorang atau sekelompok orang yang dilakukan secara sadar yang bertujuan untuk mengintimidasi, merendahkan, melukai korban melalui lisan, maupun fisik yang mengakibatkan korban merasa tertekan baik secara fisik maupun mental. Argumentasi ini diperkuat oleh Coloroso (2007), bullying adalah tindakan intimidasi yang dilakukan secara berulang-ulang oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah, dilakukan dengan sengaja dan bertujuan untuk melukai korbannya secara fisik maupun emosional.

Perilaku bullying kerap terjadi di kalangan remaja. Perilaku bullying bisa timbul karena faktor keluarga dan faktor teman sebaya. Oliver et al (Sanders, 2004:123) mengemukakan enam latar belakang dari keluarga yang dapat mempengaruhi perilaku bullying pada individu, yaitu: 1) Lingkungan emosional yang beku dan kaku dengan tidak adanya saling memperhatikan dan memberikan kasih sayang yang hangat. 2) Pola asuh yang permisif dengan pola asuh serba membolehkan, sedikit sekali memberikan aturan, membatasi untuk berperilaku, struktur keluarga yang kecil. 3) Pengasingan keluarga dari masyarakat, kurangnya kepedulian terhadap hidup masyarakat, serta kurangnya keterlibatan keluarga dalam aktivitas bermasyarakat. 4) Konflik yang terjadi antara orangtua, dan ketidakharmonisan dalam keluarga. 5) Penggunaan disiplin, orangtua gagal untuk menghukum bahkan malah memperkuat perilaku agresi dan gagal untuk memberikan penghargaan. 6) Pola asuh orangtua yang otoriter dengan menggunakan kontrol dan hukuman sebagai bentuk disiplin yang tinggi, orangtua mencoba untuk membuat rumah tangga dengan aturan yang standar dan kaku. Menurut Coloroso (2007:65), pencarian identitas diri remaja dapat melalui penggabungan diri dalam kelompok teman sebaya atau kelompok yang diidolakannya.

Selanjutnya Coloroso memaparkan tiga bentuk bullying, yaitu: 1. Verbal bullying adalah bentuk bullying dengan kata-kata dapat berupa ejekan, memberi julukan, meremehkan, kritikan kejam, dan ucapan yang kasar. 2. Physical bullying adalah bentuk bullying dengan fisik berupa memukul, mencekik, menampar, menendang, menggigit, menggores, memelintir, meludahi, meninju, dan merusak pakaian atau barang dari korban. 3. Relational bullying adalah bentuk bullying yang paling sulit untuk dideteksi. Relational bullying adalah pengurangan perasaan ‘sense’ diri seseorang yang sistematis melalui pengabaian, pengisolasian, pengeluaran, dan penghindaran. Penghindaran, sebagai suatu perilaku penghilangan, dilakukan bersama rumor adalah sebuah cara yang paling kuat dalam melakukan bullying.

Seperti kasus yang menimpa Audrey baru-baru ini, bila kita mengamati kasusnya jelas ada unsur bullying, berawal dari cekcok akibat saling ejek antara korban dan pelaku, berakhir tindakan kekerasan. Banyak berita yang beredar di media sosial masih simpang siur, misalnya ada tindakan melukai alat kelamin. “Tetapi fakta yang ada itu menjambak rambut, mendorong sampai terjatuh, memiting, dan melempar sandal. Itu ada dilakukan dan tidak ada tindakan melukai alat kelamin,” kata Kapolresta Pontianak Kombes M Anwar Nasir, sebagaimana dikutip dari Antara.

Dari kasus diatas, tentunya perilaku bullying akan menimbulkan dampak yang sangat merugikan, tidak hanya bagi korban tetapi juga bagi pelakunya (Craig & Pepler, 2007). Menurut Coloroso (2006) pelaku bullying akan terperangkap dalam peran sebagai pelaku bullying, mereka tidak dapat mengembangkan hubungan yang sehat, kurang cakap dalam memandang sesuatu dari perspektif lain, tidak memiliki rasa empati, serta menganggap bahwa dirinya paling kuat dan disukai sehingga dapat mempengaruhi pola hubungan sosialnya di masa yang akan datang. Sementara dampak yang ditimbulkan bagi korban yaitu: depresi, rendahnya kepercayaan diri atau minder, penyendiri, merosotnya prestasi, merasa terisolasi dalam pergaulan, cemas, penggunaan alkohol, obat terlarang dan terpikir atau bahkan mencoba bunuh diri.

Bullying sudah menjadi masalah yang tidak bisa dipungkiri terhadap perkembangan psikologis anak-anak dan remaja. Seharusnya kita lakukan upaya penyelamatan perkembangan psikologis anak-anak dan remaja. Ada beberapa upaya yang bisa kita lakukan mencegah perilaku bullying khususnya pada kaum milenial, yaitu: diperlukan peran dari semua pihak terkait dengan  pembentukan karakter dan pihak yang paling berpengaruh atas pembentukan karakter anak-anak dan remaja adalah keluarga, pola asuh yang benar dari keluarga, memberikan kasih sayang yang hangat kepada anak, tidak melakukan kekerasan dalam mendidik anak, tidak berbicara kasar kepada anak, berikan pujian pada anak, selalu berkomunikasi dengan anak sehingga anak tidak merasa canggung untuk membicarakan hal-hal buruk yang dialaminya, dan merangkul bukan memarahi ketika anak sedang mengalami masalah. Sedangkan dari pihak sekolah, yaitu: menanamkan pendidikan tanpa kekerasan di sekolah, selalu menghargai kelebihan serta kemampuan siswa, membekali para guru pengetahuan tentang mencegah bully, sosialisasi antibullying dari pihak sekolah, para guru juga tidak boleh menganggap remeh mengenai tingkah laku anak-anak perlu adanya bimbingan serta konseling pada setiap siswa, guru beserta pembimbing konseling diharapkan dapat membuat program-program efektif yang ditujukan memberantas bullying, dan membuat poster tentang pencegahan bullying. Selanjutnya dari masyarakat, yaitu: menjaga pola komunikasi dan interaksi yang baik di masyarakat, mengontrol dan mengawasi perilaku yang sekiranya menyimpang, dan membangun budaya ramah dimasyarakat.

Upaya penanganan yang bisa dilakukan jika telah terjadi bullying, yaitu: bina komunikasi yang baik antara orangtua dan anak sehingga anak tidak merasa canggung untuk membicarakan hal-hal buruk yang dialaminya, ajari anak untuk bersikap self defense dalam arti menghindari diri dari korban atau pelaku kekerasan, ada kebijakan dan tindakan terintegrasi yang melibatkan seluruh pihak mulai dari orangtua, guru, masyarakat, serta siswa yang bertujuan untuk menghentikan perilaku bullying, menjamin rasa aman bagi korban, bina relasi dan komunikasi yang baik dengan guru di sekolah atau orangtua siswa lainnya untuk mendapatkan informasi adanya kasus bullying atau melaporkan kepada guru, masyarakat tidak mengabaikan potensi pelanggaran anak di lingkungannya, dan menegur atau melaporkan kepada pihak yang berwenang jika ada bullying yang terjadi dimasyarakat.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here