Menyikapi Pertumbuhan Ekonomi Kepri yang Memekar

0
788
Lukita D. Tuwo

Oleh: Lukita D. Tuwo
Bekerja di Badan Pengusahaan Batam

Bila kita ikuti diskusrus-diskurus di media elektronik TV dalam 3 bulan terakhir ini, salah satu isu yang menjadi topik hangat adalah masalah pertumbuhan ekonomi di luar masalah harga-harga (inflasi) dan kemiskinan.

Hal ini tidak mengherankan karena mesin penggerak utama perekonomian suatu negara/wilayah adalah pertumbuhan ekonomi.

Dengan berputarnya roda perekonomian lebih kencang maka diharapkan akan tercipta lapangan kerja yang lebih luas untuk mendorong pendapatan nasional yang lebih tinggi dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.

Oleh karena itu, dalam upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah senantiasa memperhatikan kualitas pertumbuhan agar mampu menyerap jumlah penduduk yang sedang menganggur dan sekaligus dapat mereduksi kemiskinan.

Dalam upaya untuk menggenjot pertumbuhan yang lebih kencang, sejak lama Pemerintah telah menetapkan Batam sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional dan bahkan didambakan akan mampu tumbuh seperti ekonomi Singapura.

Untuk mewujudkan itu, Batam telah ditetapkan sebagai Free Trade Zone (FTZ) untuk industri manufaktur berorientasi ekspor yang notabene diberi fasilitas khusus bebas bea masuk impor akan bahan baku/penolong yang digunakan oleh industri manufaktur.

Pada awalnya, peran industri manufaktur Batam menunjukkan perfoma yang relatif impresif dan mampu tumbuh rata-rata di atas 7 persen per tahun hingga 2013.

Tetapi sejak 2013, sebagai dampak perlambatan ekonomi global, khususnya sektor migas dan komoditi tambang, ekonomi Batamsudah menunjukkan perlambatan yang berkelanjutan hingga mencapai pertumbuhan hanya sebesar 2,01 persen pada 2017.

Banyak pelaku usaha industri manufaktur yang tutup dan bahkan hengkang ke negara-negara jiran. Efek domino lanjutannya adalah meningkatnya jumlah penganggur dan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.

Ekonomi Kepri Memekar
Awal bulan ini Badan Pusat Statistik Provinsi Kepri telah merilis angka pertumbuhan ekonomi triwulan kedua 2018 sudah mencapai 4,51 persen yang berarti 0,04 persen di atas capaian triwulan I yang angkanya 4,47 persen.

Dengan kata lain, perekonomian Kepri sejak triwulan pertama 2018 sudah mulai menunjukkan tunas pertumbuhan yang semakin memekar. Namun demikian, performa tersebut masih relatif jauh di bawah pertumbuhan nasional yang sudah menampakan performa yang lebih baik, yaitu 5,27 persen pada triwulan II/2018 (y o y).

Disadari bahwa pertumbuhan triwulan II/2018 sudah lebih baik dibandingkan triwulan-triwulan sebelumnya, tetapi bila ditelisik lebih jauh, ternyata sektor penggerak utama, yaitu industri manufaktur belum menunjukkan performa sebagaimana yang diharapkan.

Sektor ini diharapkan dapat tumbuh sebesar 4,64 persen, namun realisasinya hanya tumbuh sebesar 3,77 persen pada triwulan II. Bahkan sektor Pertambangan/Penggalian yang pada triwulan I/2018 telah tumbuh 3,99 % dan diharapkan mampu tumbuh sebesar 4,38 %, ternyata mengalami kontraksi sebesar 2,82 %.

Padahal, kontribusi kedua sektor dalam perekonomian Kepri telah mencakup 51,65 persen, namun pertumbuhannya masih di bawah angka skenario yang telah ditetapkan.

Bahkan bila dicermati lebih rinci, penyebab tidak tercapainya target pertumbuhan sektor manufaktur, berkaitan dengan masih belum mampunya industri shipyard bangkit dari keterpurukan yang direfleksikan dengan pertumbuhan yang masih negatif, yaitu -1,45 % pada triwulan II/2018.

Ditambah lagi industri tekstil/pakaian jadi dan industri kayu dan barang dari kayu juga masih mengalami kontraksi yang cukup dalam, yaitu masing-masing 8,28 % dan 9,28 %. Sektor-sektor tersebut adalah penyerap tenaga kerja yang cukup besar.

Harus Tumbuh di Atas 5 Persen
Capaian pertumbuhan triwulan II, patut diapresiasi mengingat pertumbuhan pada triwulan yang sama pada 2017 hanya sebesar 1,06 %. Tetapi bila pertumbuhan minimal 5 persen pada 2018 ingin dicapai, maka dibutuhkan kerja keras dan sinergis dari semua stakeholders untuk mampu mencapai pertumbuhan 5,65 % dan 5,33 % pada triwulan III dan IV.

Untuk mewujudkan pertumbuhan tersebut, ada 3 sektor utama yang harus digenjot pada 2 triwulan waktu yang tersisa, yaitu pertama, industri manufaktur yang memiliki kontribusi lebih dari 35 persen, harus bisa tumbuh minimal 5,39 % dan 4,55 % pada triwulan III dan IV.

Kedua, sektor Konstruksi harus mampu tumbuh sebesar 6,39 % dan 5,73 %. Bila melihat capaian triwulan II yang angkanya 9,43 % dan dikaitkan dengan sudah bergeraknya proyek-proyek infrastruktur yang dibiayai oleh APBD dan BP Batam, ada optimisme bahwa target tersebut bisa diwujudkan.

Ketiga, sektor perdagangan besar/eceran yang selama ini masih mampu tumbuh pada kisaran angka 6,5 %, maka pada 2 triwulan terakhir 2018 harus digenjot lebih kencang, yaitu masing-masing minimal 8,6 %. Target ini memang terkesan ambisius tapi achievablemengingat fakta empiris masa lalu, sektor ini juga mampu meraih pertumbuhan di atas 8 %.

Untuk mewujudkan obsesi tersebut, ada 2 tindakan aksi yang harus dilakukan stakeholders terkait, yaitu mengendalikan stabilitas harga (inflasi) dan menggenjot sektor pariwisata.

Terkait kedua startegi atau tindakan aksi ini, penulis telah menguraikannya pada tulisan sebelumnya yang dirilis harian ini dengan judul “Tekan Inflasi Batam Untuk Tingkatkan Daya Beli” dan “Genjot Pariwisata Untuk Dulang Devisa”.

Pada kedua tulisan tersebut telah terurai secara gamblang hal-hal apa yang harus dilakukan agar pertumbuhan ekonomi Kepri/Batam muinimal sebesar 5 persen pada 2018, bisa tercapai.

Tinggal sekarang, bagaimana komitmen masing-masing para pemangku kepentingan/kebijakan untuk menindaklanjutinya. Semua pihak di Kepri, termasuk Batam, juga harus mampu menciptakan suasana yang tertib, aman dan kondusif bagi kegiatan investasi dan usaha, sehingga mereka nyaman melakukan kegiatannya.

Bahkan untuk membangun kesehatian, kesatupikiranan, dan kesatutujuanan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Kepri/Batam pada 2018, BP Batam telah melakukan diskusi panel dalam membedah dan menyikapi pertumbuhan ekonomi Kepri yang telah menggeliat pada triwulan I/2018.

Dari hasil diskusi tersebut, BP Batam telah membuat booklet panduan untuk dijadikan sebagai pedoman/tuntunan bagi masing-masing pihak terkait dalam merancang kegiatan-kegiatan aksi sesuai dengan tugas dan kewenangannya masing-masing.

Buku panduan tersebut yang memuat strategi pengawalan pertumbuhan pada triwulan 2 dan 3, telah dikirim ke masing-masing stakeholders dan hendaknyalah ditindaklanjuti agar pertumbuhan yang didambakan, bisa direalisasikan.

Agar dalam paruh waktu semester kedua yang tersisa semua para pemangku kepentingan/kebijakan bisa fokus untuk merancang program-program aksi, maka BP Batam akan menyelenggarakan lagi forum yang sama seperti sebelumnya untuk membedah dan menyikapi pertumbuhan ekonomi Kepri triwulan II/2018.

Hal ini dilakukan agar para pihak (pemerintah daerah, asosiasi, dan para pelaku usaha) terus terkawal komitmennya untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Kepri /Batam yang sudah mulai memekar hingga triwulan kedua tahun ini. Pertumbuhan minimal 5 persen sangat diperlukan guna untuk bisa menggenjot pertumbuhan eknomi Batam/Kepri ke angka 7 persen pada 2019 dan 2020.

Dari sisi kemudahan berinvestasi, BP Batam terus berupaya untuk memberikan pelayanan perizinan yang terbaik dan tercepat melalui OSS (online single submission).

Melaui sistem tersebut, kendala-kendala yang selama ini menghantui atau menyusahkan para calon investor atau yang ingin mengekspansi usahanya, telah dipermudah dan bahkan kurang dari satu jam nomor induk berusaha (NIB) sebagai identitas, NPWP, nomor BPJS, dll., sudah dapat diperoleh.

Untuk mengetahui lebih rinci, bisa dilihat pada tulisan saya yang juga dirilis harian ini dengan judul “Di Batam, Izin Investasi Tuntas Sambil Ngopi”. Mari kita bangun dan geliatkan perekonomian Kepri/Batam untuk kesejahteraan masyarakat.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here