Nelayan Kepri Harus Dibekali Pabrik Apung

0
939
JUAL IKAN : Salah satu nelayan Tanjungpinang menjual ikan hasil tangkapannya kepada penampung di Pelantar KUD. Nelayan menjemur bilis (kanan).f-yusfreyendi/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang Prof Dr Syafsir Akhlus MSc menilai setiap pulau di Kepri perlu ada floating plant atau pabrik terapung untuk mengelola hasil tangkapan nelayan menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi.

Pabrik terapung tersebut berisi alat-alat yang tak begitu besar sehingga bisa dibawa kema-mana. Diantaranya untuk membersihkan, mengeringkan dan bahkan mengelola ikan hasil tangkapan menjadi bahan siap jadi.

Hasil biota laut di Kepri sangat tumpah ruah, hanya saja dampaknya secara ekonomi belum dirasakan para nelayan, khusus skala kecil atau menengah karena biasanya dijual dalam bentuk mentah atau belum diolah. Jika diolah minimal dalam bentuk setengah jadi saja, harganya akan lebih tinggi. Apalagi jika mampu mengelolanya dalam bentuk jadi.

Baca Juga :  Deklarasi Ambon Perkuat RUU Provinsi Kepulauan

Dicontohkannya seperti hasil laut gamat atau teripang, rumput laut dan berbagai jenis ikan lain, bila hanya dijual langsung setelah ditangkap akan murah. Namun bila dalam bentuk kering harganya lebih tinggi dan keuntungan lainnya bisa tahan lama.

”Untuk mengeringkan gamat sebenarnya tidak susah. Apakah dicampurkan dengan sejenis cairan atau lainnya,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, belum lama ini saat dijumpai di ruang kerjanya di Kampus UMRAH, Dompak Tanjungpinang.

Harus diakui, tidak semua nelayan di daerah memiliki akses untuk menjual langsung hasil tangkapan ke luar daerah maupun ke luar negeri secara langsung.

Baca Juga :  Peserta Lari 10K Membeludak

Ini juga mengakibatkan harga jual hasil tangkapan murah. Bahkan lebih memprihatinkan jika tidak diolah dengan baik bisa busuk sebelum sampai ke daerah tujuan. Dengan adanya pabrik terapung, maka hasil tangkapan nelayan bisa bertahan lama bahkan tetap dengan keadaan baik saat dikirim ke luar daerah.

”Ini yang belum ada di Kepri. Pabrik terapung juga tidak harus stay pada suatu perkampungan nelayan. Bisa menjadwalkan waktunya,” ungkapnya.
Asalkan para nelayan meletakkan gamat atau rumput lautnya di pantai kawasan pemukimannya. Setelah pabrik terapung datang, maka diangkat kembali dan diolah.

Baca Juga :  Peringati Tahun Baru Hijriah, Mahasiswa dan Dosen STAI MU Gelar Doa dan Zikir Bareng

”Jika tidak pandai mengelola, bisa jadi busuk hasil tangkapannya. Padahal harganya sangat mahal,” tuturnya. Ke depan hasil tangakapan ikan dari masyarakat Kepri tidak lagi dijual dalam bentuk mentah. Namun minimal sudah bentuk setengah jadi. (dlp)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here