Pantun Kita di Pintu UNESCO

0
1526
Abdul malik, Mpd

Pantun sedang dalam perjalanan panjang. Empat negara di Asia Tenggara bergandengan tangan mengantar pantun sebagai warisan budaya dunia. Pantun butuh dukungan kita semua. 

Tanjungpinang – 

Inilah pantun baharu direka,
menyurat di dalam tidak mengerti.
Ada sebatang pohon angsuka,
tumbuh di mercu gunung yang tinggi.

Pantun di atas dipetik dari Perhimpunan Pantun Melayu karya Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda. Terbit pada 1877 dan diyakini sebagai karya pertama tentang kumpulan pantun secara tertulis.

Kini setelah 140 tahun, barangkali ketika menganggitnya, penulis sezaman dengan Raja Ali Haji itu, tidak punya pretensi bahwasanya pantun akan lebih dari sekadar petitih yang terdiri dari dua baris sampiran dan dua baris isi.

Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand telah meneken kesepakatan hendak menjadikan pantun sebagai warisan budaya takbenda (WBTB) dunia melalui sistem pengajuan Multinational Nomination.

Sebab pantun dikenal cukup populer dan terawat lestari di empat negara semenanjung ini sejak dulu hingga kini.

Indonesia sendiri sudah bekerja sejak akhir tahun lalu. Upaya yang membuahkan hasil. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Ahmad Muhajir sudah menyatakan pantun memenuhi kriteria untuk diajukan ke Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (UNESCO) PBB.

Budayawan Melayu di Tanjungpinang, Abdul Malik menyatakan, mewakili Indonesia, pantun yang berkembang di dua kawasan Melayu dijadikan rujukan. Kedua daerah itu adalah Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi Riau.

Pertimbangannya, di kedua kawasan ini tradisi berpantun relatif masih terpelihara sampai setakat ini walaupun perannya cenderung merosot juga jika dibandingkan dengan kejayaan tradisi berpantun pada masa lampau.

Setidaknya, Malik menandai lima fakta penting yang melekat dalam pantun.

Baca Juga :  Delapan Tersangka Dibekuk, Dua Diantaranya ASN

Pertama, pantun adalah genre puisi Melayu yang gubahannya menggunakan bahasa Melayu tinggi.

Kedua, pantun dihargai sebagai karya yang bernilai tinggi.

Ketiga, kemahiran berpantun memerlukan kecerdasan yang tinggi.

Keempat, pantun terbabit dalam semua aspek kehidupan bangsa Melayu (sosial, budaya, ekonomi, politik, agama, dsb.) sehingga menjadi bagian dari jati diri Melayu.

Kelima, dan oleh karena itu, pantun dijadikan penuntun dalam kehidupan bangsa Melayu.

“Pantun memang menjadi puncak capaian bahasa dan sastra Melayu. Pantun juga memberikan ruh bagi semua cabang seni Melayu lainnya. Oleh sebab itu, sudah sepatutnyalah pantun menjadi Warisan Dunia dari Dunia Melayu,” tulis Malik pada Kolom Jemala, Tanjungpinang Pos terbitan dua pekan lalu.

Lebih daripada itu, pantun juga sebenarnya sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional sejak setahun lampau.

Artinya, keberadaan pantun dalam lanskap kehidupan masyarakat bangsa Indonesia sudah diakui adanya dan jadi sebuah kekayaan budaya yang tidak terbantahkan.

Lantas apa untungnya bila kemudian pantun masuk dalam daftar Warisan Budaya Dunia yang diakui UNESCO? Kepala Badan Pelestarian Nilai dan Budaya (BPNB) Kepri sebelumnya, Suarman tidak ragu-ragu menjawab.

“Banyak sekali,” ujarnya.

Yang paling nyata, kata dia, akan membuat orang-orang seluruh dunia semakin tertarik mempelajari pantun. Kepulauan Riau sebagai satu daerah basis besar orang Melayu akan menjadi tujuan pembelajaran oleh penduduk dunia yang kelewat penasaran dengan pantun. Kata dia, budaya barat akan menoleh kembali ke timur.

“Dan itu baru dari sisi pendidikannya saja. Belum lagi dari sisi ekonomi, pariwisata, dan masih banyak lagi,” katanya.

Pengusulan pantun sebagai warisan budaya dunia ini beroleh sambutan positif dari para pegiatnya. Rendra Setyadiharja, pegiat pantun di Tanjungpinang, mengungkapkan, penetapan status ini bakal membuat eksistensi pantun sedemikian meluas.

Baca Juga :  Juli, Uang Lego Jangkar Dipungut

Mungkin saja, sambung Rendra, pantun akan menjelma menjadi suatu tradisi lisan yang bertransformasi ke seni pertunjukan.

“Jelas sekali itu perlu didukung. Sehingga pantun dapat dinikmati semua kalangan dan di mana pun berada,” ujar Rendra.

Hanya saja, Rendra mengingatkan, menjadikan pantun sebagai warisan budaya dunia bukan saja sebagai tradisi lisan tanpa aturan main dalam membuatnya, juga bukan saja seni pertunjukan yang boleh ditampilkan dan diperuntukkan di mana saja.

“Namun kaidah-kaidahnya harus juga tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam tubuh pantun,” ucapnya.

Rendra tegas mengatakan, menjaga kaidah berpantun adalah keniscayaan. Karena bila tidak, pantun itu akan kehilangan ruhnya.

“Karena dalam bentuk apapun pantun harus tetap pada koridor filosofisnya, yaitu sopan dan santun,” ujarnya.

Perlu Dukungan Bersama
Sebelum menuju UNESCO pada akhir bulan ini, pengajuan pantun sebagai warisan budaya dunia perlu dukungan dari pelbagai pihak. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemdikbud RI menerbitkan surat pemintaan dukungan perihal ini.

Dinyatakan dalam surat tersebut, kelengkapan berkas pengajuan harus turut dilengkapi pernyataan dukungan komunitas atau lembaga terkait. Dengan begitu, diharapkan bisa semakin meyakinkan tim penilai dari UNESCO bahwasanya pantun layak dijadikan warisan budaya dunia.

“Hal ini sangat diperlukan sebagai salah satu syarat penting dalam pengajuan pantun masuk dalam daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO dan akan dilampirkan pada berkas nominasi yang akan dikirimkan ke UNESCO,” tulis Kasubdit Diplomasi Budaya Luar Negeri, Ahmad Mahendra, dalam surat bernomor 0499/E6.3/TU/2017.

Baca Juga :  Empat Bulan, 916.260 Turis Berkunjung

Sebisa mungkin, sambung Mahendra, pernyataan dukungan dari komunitas atau lembaga yang sudah terlampir dapat lekas dikirim kembali paling akhir 15 maret 2017 melalui surel: kekayaanbudaya@gmail.com. Tentu lebih cepat akan lebih baik, mengingat tenggat terakhir pengajuan ke UNESCO jatuh tempo pada 31 Maret 2017.

Lampiran surat bertanggal 24 Februari 2017 tersebut menampilkan 14 lembaga atau komunitas yang dirasa punya kredibilitas dan kapabilitas memberikan dukungan.

Mulai dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Lembaga Adat Melayu Riau, Lembaga Adat Melayu Kepri, Asosiasi Tradisi Lisan, Yayasan Kebudayaan Indera Sakti Pulau Penyengat, Yayasan Sagang, dan sejumlah media elektronik dan cetak.

Tanjungpinang Pos sebagai media cetak utama di ibu kota Provinsi Kepulauan Riau masuk daftar tersebut. Hal ini tentu disambut baik oleh Ramon Damora, selaku pemimpin redaksi.

“Tinggal katakan saja, apa yang bisa Tanjungpinang Pos lakukan dalam mendukung pengajuan pantun sebagai warisan budaya dunia ini, pasti akan kami lakukan,” tegas Ramon, Kamis (2/3).

Tidak ada alasan yang bisa membenarkan untuk tidak mendukung kerja ini. Ramon menilai, semua nilai kehidupan universal dalam pantun itu mewakili semangat, wajah, lidah, telinga, mimpi, rakyat Kepulauan Riau tanpa terkecuali.

Dan, kata dia, Tanjungpinang Pos sejak berdiri mengukuhkan dirinya sebagai media pncerdasan yang berdiri paling depan mengawal kebudayaan.

“Kami lebih dari sekadar alat kontrol sosial,” tegas Ketua PWI Kepulauan Riau ini.(FATIH MUFTIH)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here