Pariwisata Sumber Devisa Andalan Masa Depan

0
331
Billy Jenawi

Oleh: Billy Jenawi
Dosen Program Studi Administrasi Publik Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

CADANGAN devisa Indonesia pada bulan Juni ini mengalami penurunan sebesar 4 miliar USD. Secara ekonomi, hal ini tentu bukanlah sesuatu yang mengembirakan. Devisa sendiri memiliki definisi sebagai sejumlah valuta asing yang dapat digunakan untuk transaksi perdagangan internasional atau perdagangan antarnegara. Selain itu, devisa juga dapat diartikan kekayaan yang dimiliki oleh sebuah negara yang dapat diterima dan diakui oleh dunia internasional. Dengan demikian, semakin besar cadangan devisa yang dimiliki oleh sebuah negara maka semakin kuat juga perekonomian sebuah negara.

Selama ini sumber devisa Indonesia didominasi oleh sektor minyak dan gas, pertambangan serta dari sektor perkebunan seperti karet dan kelapa sawit. Namun, seiring berjalannya waktu, sumber devisa negara mengalami perubahan. Sektor minyak dan gas tidak dapat lagi dijadikan unggulan sebagai sumber devisa negara. Dikarenakan minyak dan gas merupakan hasil kekayaan bumi yang tidak dapat diperbaharui yang mengakibatkan persediaannya akan semakin menipis. Begitu juga dengan sektor perkebunan yang harus bersaing dengan negara lainnya, salah satunya adalah negara tetangga Malaysia.

Meskipun perkebunan kepala sawit termasuk dalam sumber daya yang bisa diperbaharui (renewable), namun tidak menjamin sektor kelapa sawit dapat dijadikan andalan sumber devisa negara. Pada tahun 2018 saja, sumbangan devisa dari sektor kelapa sawit mengalami penurunan sekitar 11% yakni 20,54 miliar USD dibandingkan tahun 2017 sebesar 22,97 miliar USD. Hal ini tentu dapat dijadikan alasan oleh Pemerintah untuk tidak terlalu bergantung pada sektor ini.

Di tahun 2018 sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar kedua setelah sawit sebesar 15 juta USD. Padahal, pada tahun 2012 pariwisata masih berada pada posisi keempat penyumbang devisa. Perkembangan tersebut menyebabkan sektor pariwisata mengalami pergeseran kedudukan sebagai sumber devisa negara. Posisi pariwisata sebagai sumber devisa terus naik dari tahun ke tahun. Dalam 5 tahun terakhir devisa dari sektor pariwisata terus mengalami peningkatan. Tahun 2015 sektor pariwisata menghasilkan 12,2 miliar USD; tahun 2016 naik menjadi 13,6 miliar USD; tahun 2017 sebesar 15 miliar USD; tahun 2018 meningkat menjadi 16,1 miliar USD; dan estimasi di tahun 2019 ini sebesar 17,6 miliar USD.

Walaupun secara global, Indonesia tidak termasuk kedalam 10 besar negara penerima devisa yang bersumber dari sektor pariwisata. Tetapi besaran devisa yang diterima Indonesia dari sektor ini selalu meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2017, posisi 3 besar ditempati oleh Amerika Serikat (299 miliar USD); Spanyol (96 miliar USD); dan Perancis (86 miliar USD). Satusatunya negara Asia Tenggara yang menempati posisi 10 besar adalah Thailand (81 miliar USD) diurutan keempat.

Di kawasan Asia Tenggara sendiri berdasarkan data yang dirilis oleh Good News From Southeast Asia, pada tahun 2018 menempatkan Thailand di posisi pertama dengan jumlah kunjungan wisatawan asing sebanyak 38,3 juta. Posisi berikutnya ditempati oleh Malaysia dengan 25,8 juta wisatawan asing; Singapura dengan 18,5 juta wisatawan asing; Indonesia dengan 15,8 juta wisatawan asing; Vietnam dengan 15,4 juta wisatawan asing; Filipina dengan 7,1 juta wisatawan asing; Kamboja dengan 6,2 juta wisatawan asing; Laos dengan 4,1 juta wisatawan asing; Myanmar dengan 3,6 juta wisatawan asing; dan Brunei dengan 1,4 juta wisatawan asing. Walaupun Indonesia berada pada urutan ke-4 dibawah Thailand, Malaysia dan Singapura namun tingkat pertumbuhan wisatawan mancanegara di Indonesia cukup menjanjikan. Hal ini dibuktikan dengan data yang dikeluarkan oleh global World Travel & Tourism Council (WTTC) yang menempatkan Indonesia pada posisi ke 9 sebagai negara dengan pertumbuhan wisman tercepat di dunia, nomor 3 di Asia dan bahkan no 1 di Asia Tenggara. Kunjungan wisman ke Indonesia sendiri tumbuh 22%. Fakta tersebut menunjukkan bahwa pariwisata menjadi sektor yang paling menjanjikan sebagai sumber devisa negara.

Jumlah kunjungan pada tahun 2018 tersebut mengalami kenaikan sebesar 12,58% bila dibandingkan dengan kunjungan pada tahun 2017. Kenaikan ini tentu menjadi angin segar bagi dunia pariwisata Indonesia. Berdasarkan analisis yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yang bernama GlobalData, diperkirakan jumlah kunjungan wisatawan ke negara ASEAN akan terus mengalami peningkatan sebesar 4,72%. Hal ini tentu menjadi kesempatan khususnya bagi Indonesia. Bahkan pada tahun 2016 dunia pariwisata Indonesia menyumbangkan 10% Produk Dometik Bruto nasional dan nilai tersebut merupakan nilai tertinggi diantara negara ASEAN lainnya. Melihat begitu besarnya potensi pariwisata Indonesia, maka Pemerintah memberikan perhatian besar pada sektor ini. Pengembangan sektor pariwisata ini masuk dalam Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Nasional (RIPPARNAS). Bahkan Presiden Jokowi memberikan atensi yang begitu luar biasa dengan memasukkan pariwisata ke dalam program utama, program prioritas, selain infrastruktur, pangan, energi dan maritim.

Pemerintah juga memiliki target sasaran pada tahun 2019 yakni 9,2% kontribusi terhadap PDB Nasional dimana pada tahun 2014 hanya 4%; 20 juta wisatawan mancanegara ditergetkan untuk masuk ke Indonesia dari jumlah 9,3 juta orang wisman pada tahun 2014. Dari dalam negeri sendiri, pemerintah menargetkan 275 juta kunjungan wisatawan lokal dari sebelumnya hanya 251 juta pada tahun 2014. Dengan melihat pada jumlah kunjungan tersebut baik mancanegara maupun lokal, maka pemerintah menargetkan 20 miliar USD yang dapat dijadikan sumber devisa negara dari yang sebelumnya hanya 10,69 miliar USD pada tahun 2014. Jumlah ini hampir mencapai 2 kali lipat.

Target-target tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil dipenuhi mengingat Indonesia memiliki modal sumber daya yang cukup untuk memenuhinya. Pariwisata Indonesia saat ini tidak hanya bergantung pada Bali. Hampir setiap daerah yang ada di Indonesia memiliki destinasi pariwisata unggulan yang dijadikan daya tarik bagi wisatawan. Agen perjalanan terkenal sekelas Traveloka pernah merilis paling tidak ada 40 tempat wisata yang sangat cocok untuk menjadi destinasi liburan bagi keluarga yang tersebar dari Sabang hingga ke Merauke. Tentu saja jumlah destinasi pariwisata yang ditawarkan oleh situs tersebut jauh lebih sedikit dari destinasi wisata yang dimiliki oleh Indonesia, baik yang sudah dikelola secara profesional maupun pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat setempat.

Selain itu, banyak juga kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah untuk terus mengembangkan potensi pariwisata yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah melalui arahan langsung yang disampaikan Presiden Jokowi untuk memajukan 10 destinasi wisata nasional. Program ini dikenal dengan istilah “10 Bali Baru Indonesia”. Destinasi tersebut yakni: Danau Toba (Sumatera Barat); Tanjung Kelayang (Bangka Belitung); Tanjung Lesung (Banten); Pulau Seribu (Jakarta); Candi Borobudur (Jawa Tengah); Mandalika (Nusa Tenggara Barat); Gunung Bromo (Jawa Timur); Wakatobi (Sulawesi Tenggara); Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur); dan Morotai (Maluku Utara).

Keseriusan Pemerintah dalam mengelola pariwisata juga ditunjukkan dengan dikeluarkannya aturan mengenai Kawasan Ekonomi Khusu (KEK) di bidang pariwisata. Kawasan-kawasan tersebut ditetapkan langsung dengan Peraturan Pemerintah (PP). KEK Tanjung Lesung yang ditetapkan melalui PP No. 26 Tahun 2012, KEK Morotai melalui PP No. 50 Tahun 2014, KEK Mandalika ditetapkan dengan PP No. 52 Tahun 2014, serta KEK Tanjung Kelayang yang ditetapkan dengan PP No. 6 Tahun 2016.

Faktor promosi pariwisata juga menjadi perhatian serius bagi pemerintah untuk terus menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan. Salah satunya melalui brand “Wonderfull Indonesia”. Brand ini secara global berada pada peringkat 47, mengalahkan “Trully Asia” milik Malaysia di peringkat 96, dan Thailand sebagai negara di Asia Tenggara dengan jumlah kunjungan wisman tertinggi dengan “Amazing Thailand” nya hanya berada pada peringkat 83.

Hal-hal tersubet diatas tentu menjadi modal penting bagi perkembangan dunia pariwisata Indonesia. Sehingga pariwisata menjadi sektor yang dapat dihandalkan sebagai sumber devisa negara dibandingkan kita harus bergantung pada sumber daya alam yang sewaktu-waktu dapat habis dengan sendirinya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here