Pembangunan Mesti Memikirkan Nilai Sejarah

0
1036
Ananda Setia Yus

Ananda Setia Yus
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Pembangunan adalah aspek penting dalam mengelolah suatu daerah untuk memajukan daerah tersebut. Bahkan, gencarnya pembangunan di suatu daerah akan membuat negara menjadi lebih cepat maju.

Indonesia sat ini memerlukan perencanaan pembangunan jangka panjang sebagai arah dan prioritas pembangunan menyeluruh yang mesti direalisasikan secara bertahap. Ini untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dalam Undang-Undang nomor 25 tahun 2004 tertulis: Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah
Hal itulah yang membuat masyarakat sangat mengharapkan perkembangan pembangunan.

Kebijakan pemerintah sangatlah ditunggu oleh rakyat untuk membangun suatu daerah terpencil menjadi suatu daerah yang bisa dikenal dunia luar dengan kelebihannya. Ini sangat mengharapkan sosok pemimpin yang mampu membangun daerahnya menjadi lebih baik lagi.

Tetapi, suatu pembangunan mesti menghindari mengubah bentuk bangunan bersejarah termasuki nama tempat tersebut. Apalagi sampai mengubah dengan nama yang tidak ada hubungan dengan bangunan atau lokasi semula.

Setiap tempat bersejarah harus dijaga dengan sebaik baiknya. Setiap tempat bersejarahitu untuk diwarisi ke generasi agar anak cucu kita dapat mengetahui atau meneliti cerita tempat bersejarah tersebut. Tetapi, ada yang tidak dapat diterima oleh beberapa kalangan termasuk walikota Tanjungpinang, yaitu Lis Darmansyah, yang mengkritik gubernur Tanjungpinang karena mengganti nama istimewa pulau Dompak menjadi nama Istana Kota Piring.

Sebenarnya niat pembangunan sangatlah baik, untuk membangun Pulau Dompak menjadi lebih baik. Tetapi banyak pihak yang tidak setuju dengan pulau Dompak berganti nama menjadi Istana Kota Piring. Sejarah Istana Kota Piring itu sudah sangat terkenal dalam tanah melayu pada zaman dahulu. Namun, lokasinya bukan di Pulau Dompak.

Baca Juga :  Buku Toponimi Tanjungpinang

Tapi sangat disayangkan generasi sekarng banyak sudah yang tidak mengetahui sejarah Istana Kota Piring. Bahkan, penduduk yang tinggal di daerah Kota Piring saja sudah banyak yang tidak tahu sejarah tentang Istana Kota Piring itu sendiri.

Istana Kota Piring itu berada di kilometer 7 yang dahulunya disebut Pulau Biram Dewa. Kondisi situs sejarah istana Kota Piring saat ini sangat memprihatinkan. Hanya tersisa puing puing reruntuhan. Bahkan, di sekitar Istana Kota Piring sudah banyak rumah penduduk. Ini semakin membuat bangunan asli Istana Kota Piring semakin susah dikenali. Hanya tersisa sumur istana tembok dan pagarnya saja.

Tetapi bukan berarti sejarah Istana Kota Piring yang mulai luntur ini akan hilang begitu saja dan memindahkan namanya ke daerah lain. Ini lah hasil suatu pemikiran pemerintah yang tidak memikirkan terlebih dahulu tetang nilai–nilai sejarahnya. Terlihat jelas ada tulisan selamat datang di Istana Kota Piring di jembatan perbatasan Tanjungpinang – Pulau Dompak, persis tepat di bawah masjid Raya Kepri.

Penamaan Istana Kota Piring kini malah disematkan untuk nama kawasan pusat pemerintahan Kepri di Pulau Dompak. Pemberian nama Istana Kota Piring ini diberlakukan saat hari ulang tahun (HUT) Kepri ke-12 tahun 2014 lalu. Penggunaan nama Istana Kota Piring kini sudah jadi identitas pusat pemerintahan Kepri di Dompak.

Hal ini menyesatkan generasi yang mendatang dengan mengkaburkan suatu tempat sejarah aslinya. Karena Istana Kota Piring sangatlah bersejarah di Tanjungpinang. Lalu apa akibat dari penamaan Istanah Kota Piring berada di Pulau Dompak. Apa pola pikir generasi ke depannya tentang sejarah Melayu dan bahayanya wisatawan domestik dan mancanegara yang meneliti sejarah Melayu yang berkunjung ke kota bersejarah seperti Tanjungpinang.

Baca Juga :  Saya Mau E-KTP

Jika mereka datang ke Pulau Dompak dan melihat bangunan tulisan Istanah Kota Piring akan berfikir bahwa Kota Piring berada di Pulau Dompak. Pasti mereka akan berfikir dan percaya dengan plang atau bacaan di sisi jalan itu. Hal ini harus difikirkan panjang lebar karena bukan cuma bisa menggunakan namaya saja tetapi nilai sejarah yang aslinya harus di benarkan.
Membuat icon wisata irtu sangat baik. Tetapi mesti membuat dalam yang sebenar–benarnya.

Kembali kepada pemerintahan kepri, Gubernur Kepri, Lembaga Adat Melayu Provinsi Kepri, dan tokoh tokoh adat di Provinsi Kepri hendaknya mengevaluasi kembali penamaan tersebut. Seharusnya bukan mengganti dengan nama istimewa nama yang sudah kita sangat kenal itu.

Itu bermakna merampas nama Kota piring dari tempat asalnya hingga mengaburkan lokasi yang asli. Mesti pemerintah memperkuat ciri khas atau dengan cerita sejarahnya Istana Kota Piring yang ada di kilometer 7 itu. Apalagi situs-situsnya sudah mulai pudar. Peninggalan sejarah mesti dijaga baik–baik. Sekaligus untuk memperkuat lokasi peninggalan raja – raja.

Gubernur Kepri haruslah memperhatikannya, bukan hanya membangun dan memerbaiki. Tetapi memberikan inovasi – inovasi yang baru di setiap tempat yang ada peninggalan makam para raja atau putri. Kadang wisatawan menilai peninggalan sejarah malah terlihat menyeramkan? Contoh puncak Bukit Kursi di Pulau Penyengat yang selalu kata kenal sebagai bukit Benteng Pertahanan.

Dahulu, bukit itu jadi tempat yang sangat strategis dalam menghindari serangan musuh yang datang dalam jumlah besar dengan persenjataan yang lengkap. Dan keistimewaan lainnya bukit ini adalah benteng pertahanan yang terletak di atas bukit di bangun dalam bentuk parit – parit. Desain ini berfungsi sebagai jalur menyuplai bubuk mesiu bagi persenjataan meriam.

Baca Juga :  Suksesi Gerakan Salat Subuh Berjamaah

Tetapi kondisi parit–parit itu saat ini tidaklah baik karena tidak ada kesadaran petinggi di Kepri untuk observasi melihat sendiri betapa pedulinya dengan peninggalan sejarah. Ya, sekarang Kepri lebih maju dengan adanya tempat wisata buatan yang terkenal hampir se Asia tahu yaitu pantai Lagoi yang berada di Bintan Utara dan sejumlah obkjek wisata populer lainnya yang terkenal sebagai objek wisata kebanggaan Kepri.

Kenapa di bilang kebanggaan, ya karena wisatawan asing sering datang. Bahkan jumlah wisatawan mancanegara pada 2016 lebih kurang mencapai 305.000 dan mecapai peringkat ke 4 terbanyak kunjungan turis mancanegara di Indonesia.

Dengan data yang didapat dari dinas parawisata bintan. Itu sebuah prestasi yang dimiliki Kota Tanjungpinang. Tetapi apakah ada yang berfikir wisatawan mancanegara hanya berkunjung di sebuah icon yang menarik baginya dalam hal objek wisata alam bukan objek wisata sejarah. Kemungkinan ada yang berkunjung dalam objek wisata sejarah tetapi kecil persentasenya.

Dalam zaman sekarang objek wisata yang disukai wisatawan adalah wisata alam. Bahkan, wisatawan domestik juga begitu. Lalu bagaimana kita mengangkat sejarah kebudayaaan Melayu untuk kita kenalkan kepada wisatawan.

Di abad ini sudah mulai terhapus perlahan, lalu apa jadinya di masa yang akan datang? Mungkin hanya kata Melayu yang dikenal bukan keaslian sejarahnya. Maka dari itu gubernur Kepri dan lembaga adat Melayu Kepri harus melihat ke depannya mau jadi apa kota kita di zaman yang akan datang, maju dengan pembangunan alamnya atau pembangunan tempat sejarahnya. ***

 

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here