Pemenang Pilkada Adalah Mereka yang Tak Dendam

0
3010
Mohammad Endy Febri SE, MH

Oleh : Mohammad Endy Febri
Pemilih 2018, Warga Tanjungpinang

Jika ada pilihan terbaik dari yang terburuk, mempercepat laju perahu usai badai sepertinya lebih utama dibanding menepi lama menyusun strategi sebelum badai datang. Sebab, keberuntungan didapat dari peluang, plus kerja keras dan keberanian. Bergegas sampai tujuan adalah pilihan sempurna. Lebih banyak kelegaan dibanding berlama-lama terayun bersama gelombang.”

Hanya berharap pada kapal semata, alunan ombak tak bisa diatur dan ditundukkan sesuka hati kita. Sebab, tuhan adalah konduktornya lewat variabel arah angin dan daya hembusnya serta pergantian musim juga misteri lainnya; sesuatu yang bersifat misteri, yang tak bisa ditebak ruang atau kedalamannya selalu mengkhawatirkan makhluk logika bernama manusia. Kita selalu menginginkan kepastian dan sesuatu yang terukur.

Begitu juga pemilihan kepala daerah serentak seindonesia raya, Rabu 27 Juni 2018. Daripada berlama-lama meniti hempasan gelombang kelak, lebih baik musnahkan embrio potensi konflik semaksimal mungkin sebelum hari pemilihan. Supaya perahu laju jalannya, tanpa hambatan dan tenang mencapai tanah harapan pada hari yang telah ditetapkan.

Baca Juga :  #GantiPresiden atau Tidak

Di lain sisi, pemilihan kepala daerah juga mengingatkan saya pada pola kerja lebah. Anggaplah hari H pencoblosan merupakan hari dimana ratu lebah menetaskan anak-anaknya, walaupun didunia mereka sana, ratu lebah bertelur tiap hari.

Tugas terpenting ratu lebah seumur hidupnya hanya melahirkan seluruh generasi penerus bangsanya dengan prima, tak ubahnya seperti melahirkan demokrasi yang sehat secara rutin berkesinambungan, hemat saya.

Bagaimana bila ratu lebah mati? Inti utama dari sebuah koloni akan hilang juga. Tapi, para anak buah, lebah madu, punya trik khas mengatasinya.

Lebah pekerja akan memilih salah satu larva lebah sebagai calon ratu dan kemudian, secara massal akan dijaga dan diberi suplemen khusus yang disebut royal jelly, supaya calon pemimpin mereka, sang ratu lebah, terjaga pertumbuhan dan kesehatannya. Seperti negara dan masyarakat kita sama-sama menjaga proses demokrasi hari ini dengan awas, walau masih kerap mencurigai.

Baca Juga :  Saatnya Mendiversifikasi Kekuatan Ekonomi Kepri ke Nonmanufaktur

Banyak momentum yang membuat manusia bertikai dan merasa paling fair dan demokratis saat ini. Tidak menjaga larva demokrasi sebagai lambang keutuhan teritorial, dalam tataran lokal maupun nasional. Kita sudah jarang memiliki simbol yang dapat diterima dengan ikhlas oleh semua pihak sebagai pemersatu perbedaan.

Pilkada serentak 2018 akan menetapkan pasangan calon kepala daerah di 171 daerah. Kegaduhan yang dianggap biasa dalam berdemokrasi acapkali mencapai klimaks setelah ditetaskan dihari pencoblosan.
Hal-hal yang dirasa dapat dijadikan senjata pamungkas atau kartu as pun dikeluarkan bagi mereka yang kalah.

Sengaja disimpan saat kepalang basah, sudah kadung kalah. Bukannya dimusyawarahkan sebelum petarungan untuk mencari jalan penyelesaian. Bayangkan bagaimana riuhnya portal berita online akan bercerita tentang perdebatan pilkada ini.

Lazimnya, jika prosentase kemenangan calon kepala daerah selisih tipis, pemenang dilabeli licik dan curang oleh kekecewaan mereka yang tersisih. Terutama mereka yang berharap banyak balas budi dari kemenangan calon jagoannya.

Baca Juga :  Kota Budaya dan Berkiblat pada Kekayaan Sejarah dan Tradisi

Menjelang pengumuman resmi pemenang yang dianggap injury time dan jadi waktu krusial untuk berjuang mati-matian, toleransi akan jadi hiasan dinding belaka. Selalu begitu atmosfer yang dirasakan masyarakat saat menilai betapa ganasnya sebuah kelompok untuk mendapatkan kekuasaan.

Dampaknya, silent majority seperti saya dan para warga yang tak terlibat erat lingkaran ring satu calon petarung, jengah dengan keadaan. Bacaan atau tontonan media mainstream akan dihiasi debat para ahli tak berkesudahan. Belum lagi akselerasi media abal – abal bayaran di lini medsos yang sarat kepentingan. Lebah saja mengutamakan sportifitas untuk memilih ratunya yang baru. Setelah dipilih sesuai kriteria terbaik, ‘diasuh’ bersama. Tak bisakah kita hidup legawa saling menguatkan dan berkembang dengan kritik sejuk untuk menumbuhkan demokrasi tanpa dendam; siapapun pemenangnya. Apakah maqam kita dibawah hewan pengentup itu? ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here