Penyakit Lendir Menyerang, Isi Kerambah Mati

0
1004
BUDIDAYA: Seorang pembudidaya ikan kerapu di Kampung Madong, Tanjungpinang.F-adly/tanjungpinang pos

Yang Bikin Pembudidaya Ikan Deg-degan 

Bekerja sebagai nelayan tangkap masih banyak yang menggelutinya. Namun, sebagian mulai mengarah menjadi nelayan budidaya ikan. Lebih modern dan menjanjikan.

Tanjungpinang – MENJADI nelayan budidaya kadang berhasil, kadang tidak. Modalnya besar dan butuh tempat yang lebih steril. Salah satu jenis ikan yang kerap dibudidaya adalah, kerapu.

Ikan kerapu ini, selain banyak diminati konsumen karena tekstur dagingnya yang lembut dan gurih, harganya juga menggiurkan. Inilah yang kerap dibudidayakan nelayan di daerah Madong, Tanjungpinang.

Memanfaatkan laut sebagai media keramba membantu nelayan karena mereka bisa panen dan mampu memenuhi pesanan pelanggan.

Kerambah-kerambah yang terbuat dari jaring diikat di samping drum-drum sehingga mengapung. Ini lah media yang digunakan para nelayan ikan kerapu.

Jika menjadi nelayan tangkap, sekali turun ke laut hasilnya tak bisa diperkirakan. Kata mereka, nasib-nasiban. Jadinya, nelayan kadang malas melaut dan pasokan ikan di pasar kurang stabil.

Usaha budidaya keramba ikan kerapu mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan karena selama ini penghasilan mereka tidak bisa diandalkan dengan pola tangkap. Dalam satu kilo ikan kerapu dibanderol dengan harga sekitar Rp 120 ribu.

Baca Juga :  Camat dan Kades Dorong Program Ekonomi Kerakyatan

Harga jual ikan kerapu tersebut cukup tinggi dan memikat nelayan setempat karena penghasilan mereka sebagai nelayan tangkap sulit diandalkan. Sehingga beralih menjadi nelayan kerambah ikan kerapu.

Tetapi, dalam berbudidaya ikan kerapu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Para nelayan kerambah harus belajar dan memperhatikan beberapa hal yang untuk menjaga kualitas ikan kerapu yang dibudidaya.

Hal-hal penting yang diperhatikan yakni, penentuan waktu panen, peralatan panen, teknik pemanenan, serta penanganan pascapanen. Waktu panen biasanya ditentukan oleh ukuran permintaan pasar.

Ukuran super biasanya, 700-800 gram dan merupakan ukuran yang mempunyai nilai jual tinggi. Panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari sehingga dapat mengurangi stres ikan pada saat panen karena ketika waktu itu cuaca tidak terlalu panas.

Hal itu diungkapkan Hamzah nelayan kerambah ikan kerapu Tanjungpinang. Menurutnya, teknik pemanenan yang dilakukan pelaku usaha budidaya ikan kerapu dengan metoda panen selektif dan panen total.

Panen selektif pemanenan terhadap ikan yang sudah mencapai ukuran tertentu sesuai keinginan pasar terutama pada saat harga tinggi. Sedang panen total adalah panen secara keseluruhan yang biasanya dilakukan bila permintaan pasar sangat besar atau ukuran ikan seluruhnya sudah memenuhi kriteria jual.

Baca Juga :  Tabrak Tembok, Dua Pengendara Tewas

Dalam menentukan lokasi juga harus diperhatikan keberadaan hewan-hewan predator. Sebab hal ini juga akan mengganggu tingkat keberhasilan dalam melakukan usaha pemeliharaan ikan kerapu.

Hamzah menyebutkan, hewan-hewan predator yang harus menjadi perhatian di sini diantaranya ikan-ikan besar, ikan buntal, dan juga hewan-hewan darat seperti burung. Untuk mengakali hal tersebut di atas kerambahnya ditutupi dengan jaring-jaring.

Selain itu, penyakit yang sering menyerang ikan kerapu adalah serangan parasit yang mana pada badan ikan sering keluar cacing yang bisa menyebabkan kematian.

Persoalan lain, akibat perkelahian antara ikan juga sering dijumpai dan yang paling parah adalah, penyakit lendir yang keluar dari badan ikan ini. Saat ini, penyakit tersebut musuh terbesar pembudidaya karena belum ditemukan obat penyakit ini.

”Pihak Karantina sudah sering meneliti. Tetapi sampai sekarang belum ditemukan obat dan penyebab datangnya penyakit ini. Kalau sudah kena penyakit lendir, sudah tidak ada ampun lagi. Satu kerambah bisa mati semua,” jelasnya.

Saat ini, dirinya mempunyai kerambah yang berukuran 3×3 sebanyak 18 buah. Namun di kerambah tersebut tidaklah sepenuhnya ada ikan kerapu.

Baca Juga :  Sayur dan Ikan Bikin Inflasi Naik

Hamzah menjelaskan, dari 18 kerambah ini cuman terisi 8 buah itu. Semuanya ikan kerapu yang masih kecil. Dirinya tidak mengembangkan budidaya ikan kerapu ini sendiri melainkan per kelompok yang terdiri dari lima orang nelayan.

Bantuan dari Pemerintah Kota Tanjungpinang hanyalah kerambah. Bantuan bibit belum diterima kelompoknya.

”Kita sudah minta waktu di acara Musrenbang tetapi belum ada bantuan sampai sekarang. Sementara kelompok lain sudah dapat 30 ribu ekor bibit ikan,” sebutnya.

Di dalam kerambah, kelompoknya memelihara ikan kerapu berjenis kerapu cantang, kerapu lumpur, kerapu cantik dan kerapu macan. Ikan ini dijual melalui pasar lokal. Itu dikarenakan permintaan di pasar lokal cukup tinggi dan butuh banyak pasokan.

Pemanenan ikan yang dilakukan kelompokknya dalam satu tahun bisa dua kali dengan harga jual mencapai Rp 120 ribu per kilonya.

Sedangkan ukuran yang diminati dalam pasar berukuran 7-8 ons. ”Banyak permintaan tetapi tidak bisa melayani. Stok ikan kita terbatas. Bibit ikan kita masih sangat sedikit,” bebernya.(Raymon)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here