Pilkada dan Perubahan

0
827
Raja Dachroni

Raja Dachroni
Direktur Gurindam Research Centre (GRC)

Perubahan yang tidak sekedar beralih pertukaran rezim kekuasaan, tetapi bagaimana perubahan yang bisa membawa masyarakat untuk lebih sejahtera dan lebih bahagia. Inilah yang diharapkan sebagian besar pemilih pada Pilkada Serentak 2017 kali ini. Semangat perubahan ini bukan tanpa alasan sebab dimanapun proses pertukaran pemimpin tentu kata perubahan menjadi jargon utama seorang calon pemimpin.

Kendati demikian, perlu disadari berubah atau tidaknya pembangunan lima tahun ke depan pasca terpilihnya pasangan colon yang saat ini ‘bertarung’ pada Pilkada serentak 2017 ini sangat tergantung bagaimana masyarakat menentukan pilihannya karena pada hakikatnya dalam kehidupan demokrasi, Pemilukada adalah momentum regenerasi kepemimpinan dan perubahan.

Tentunya perubahan tidak akan muncul kalau masyarakat salah memilih pemimpinnya dan dalam menentukan pilihan juga berpijak pada aspek-aspek primordialisme. Ini yang kemudian menjadi sulit, terlebih lagi apabila calon pemimpinnya belum memiliki atau tidak memiliki visi yang terukur dan terarah.

Tentunya calon pemimpin harus mampu mewujudkan harapan-harapan perubahan yang secara umum dalam kajian ilmuan atau pakar marketing politik Kusnaedi (2009: variabel-variabel perubahan yang diharapkan masyarakat itu antara lain dapat ditinjau dari beberapa aspek yang pertama dari aspek demografi masyarakat menghendaki keseimbangan jumlah penduduk, persamaan gender dan tidak ada kesenjangan antara warganya baik yang tinggal di jantung kota atau wilayah pinggiran.

Baca Juga :  Mencari Pemimpin Pemersatu

Kedua, aspek sosial budaya yang masyarakat inginkan tentunya kelestarian budaya, terbentuknya dan meningkatnya lapangan kerja serta upah yang layak, peningkatan mutu pendidikan serta pendidikan murah dan gratis. Dan peningkatan pelayanan serta mutu kesehatan gratis dan murah.

Ketiga, aspek ekonomi diindikasikan dengan peningkatan pendadapatan daerah, penghematan anggaran, pemberdayaan SDA, menurunnya angka kemisikan dan berbagai indikasi ekonomi lainnya.

Keempat, infrastruktur. Harus ada perubahan yang signifikan secara fisik nantinya seperti tersedianya rumah sakit dekat dan murah, tersedianya sekolah yang cukup dan dekat, mudahnya sarana transportasi air, darat dan udara.

Kelima, perubahan dari aspek kepengolaan pemerintahan, jelas masyarakat menginginkan adanya transparansi dalam penerimaan dan perekrutan birokrasi di daerah, pemerintahan yang anti korupsi dan berpihak pada rakyat dibuktikan dengan pelayanan prima yang diberikan oleh aparatur pemerintahan.

Kita tentunya berharap perubahan ini bisa segera terwujud pasca Pilkada Serentak 2017 nanti. Utamanya di propinsi dan kabupaten kota yang kemarin baru saja memenuhi hajatan Kesejahteraan masyarakat tentunya menjadi hal utama yang harus dipikirkan oleh pasangan calon yang terpilih.

Baca Juga :  Menjaga Netralitas ASN dalam Nilai-nilai Budaya Melayu

Ahok Djarot Versus Anies – Sandi
Dari 101 Pilkada serentak yang digelar memang paling menarik diperhatikan adalah Pilkada DKI. Pilkada DKI ini sedikit berbeda rasanya. Pilkada rasa Pilpres. Menyita waktu banyak tokoh bangsa, partai politik dan masyarakat Indonesia. Lihat saja akun media sosial masyarakat yang diluar Jakarta nyaris memosting dan membuat status tentang Pilkada DKI.

Berdasarkan hasil hitung cepat dari berbagai lembaga kita bisa melihat pasangan No 2 Ahok – Djarot yang diusung PDIP-NasDem-Golkar dan Anies – Sandi yang diusung Gerindra-PKS saling kejar-kejaran meninggalkan pasangan yang diusung Demokrat, PPP, PKB dan PAN Agus – Sylvi.

Merujuk data yang dirilis Polmark, LSI dan Indikator saat penulis kutip pada Rabu (15/2) pukul 16.37 WIB, LSI dengan data masuk 92 persen merilis No 1 Agus – Sylvi (16,9 %), No 2. Ahok – Djarot (42,9 %), 3 Anies – Sandi (40,2 %). Sementara itu, Polmark dengan data masuk 85 persen No 1 Agus – Sylvi (18,6 %), No 2. Ahok – Djarot (40,4 %), 3 Anies – Sandi (41,0 %). Berikut rilis SMRC dengan data masuk 87 persen No 1 Agus – Sylvi (16,9 %), No 2. Ahok – Djarot (43 %), 3 Anies – Sandi (39 %).

Baca Juga :  Bunuh Diri Kok Jadi Tren?

Melihat data yang masuk tentunya tidak akan banyak perubahan dan jelas pasangan Ahok –Djarot akan ke putaran kedua bersama Anies – Sandi.

Nah, kita tunggu saja bagaimana dukungan partai politik pasangan No 1. Bisa saja Demokrat akan kembali netral seperti Pilpres 2015 lalu, sementara PPP dan PKB elitnya tentu bingung dan berpikir dua kali untuk mendukung Ahok – Djarot, kalau mengikuti syahwat politik tentu mendukung Ahok – Djarot yang didukung dengan konsekuensi kehilangan suara basis umat.

Jika PAN mungkin saja akan merapat ke Anies – Sandi. Nah, konstelasi politik kita akan diskusikan lebih lanjut. Tapi kita berharap Pilkada serentak 2017 bisa memberikan perubahan yang baik pada negeri ini dan kita tetap solid menjaga keutuhan NKRI. Merdeka! ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here