POHONKAN MAAF ITU…(REFLEKSI HARI MARWAH)

0
927

RAMADAN di pelupuk mata. Bulan yang betapa mulia. Sajadah suci membentang lebih lapang di dalamnya dengan pelbagai keistimewaan, meminta sujud jiwa seorang hamba.

Mata yang selama ini hanya mau memandang puncak gunung, dada yang kemarin-kemarin senantiasa membusung, di pintu Ramadan semuanya tertunduk. Kalbu rebah.

Kepongahan secanggih apapun sama sekali tak berguna, karena di depan sana selama 30 hari penuh kita hanya berasal dari lapar dan haus yang sama.

Maha Besar Allah yang sudi menganugerahi kita yang berselekeh noda lalai berlupa ini, sebuah bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan maghfirah. Bertabur cahaya ampunan,  penuh Rahman dan Rahim. Reguklah suka-suka. Seintim-intim.

Maka sebelum memasuki Ramadan, seluruh umat Nabi Muhammad tersadar. Tiba-tiba tersentak hatinya secara serentak, dari pelbagai belahan penjuru dunia, untuk saling menjemput maaf.

Kaum muslimin berlomba-lomba memohon dimaafkan kesalahannya, melalui aneka gawai, android, resa, juga effort, untuk meyakinkan, “kami siap zahir batin, ya Rabb, merengkuh Ramadan-Mu yang agung itu”.

Alangkah indah. Sesaat, gerbang Ramadan menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang pemaaf. Kata maaf yang selama berbulan-bulan sebelum Ramadan sangat sukar diucapkan, menjelang Ramadan laksana mitraliur yang tumpah-ruah. Demikian ringan dan mudah.

Banyak harapan semburat tiada terperi di sana. Sebagai warga negara, kita memang sedang memerlukan amunisi ‘maaf’ sebanyak-sebanyaknya. Maklum, sejumlah peristiwa politik akhir-akhir ini, baik di level nasional maupun di provinsi kita sendiri, terasa benar telah merobek-robek buhul silaturahmi. Merongrong persatuan, persaudaraan, kekerabatan.

Terlepas dari apakah gemuruh maaf yang sebentar lagi akan terdengar gegap-gempita itu cuma nyaring secara kuantitas, bukan kualitas, tak ada salahnya bila kita menjadikannya sebagai momentum untuk mulai perlahan-lahan menabung sebanyak mungkin energi positif dalam diri.

Baca Juga :  Jahil Ndeso, Qurro’uha

Hanya maaf yang bisa melumat sengkarut angkara dalam dada. Bukankah dalam pengertian syari’at, kata maaf disebut dengan ‘al-afwu’, yang berarti ‘menghapus’. Ketika seseorang memohon maaf, maka saat itu pula ia, sejatinya, benar-benar telah menghapus segala bara murka dan nyala dendam di hati. Itulah maaf paling hakiki.

Dalam budaya Melayu, kata maaf ditempatkan pada standar tertinggi. Apa itu? Maaf, bagi Melayu, bukanlah sesuatu yang diminta, melainkan: di-pohon-kan.

Syukurlah, lema ‘pohon’ yang menurunkan kata ‘memohon’ itu terkalam dengan baik di KBBI, misalnya. Tetapi, kecuali tinggal setakat celoteh  morfologi linguistik belaka, hari ini bahkan orang Melayu sendiri pun sudah sangat jarang sekali mengatakan, “kupohonkan segala maaf darimu…”

Sejak tragedi pokok khuldi, pohon laris-manis menjadi simbol kehidupan. Orang Melayu juga kerap mengidentifikasi relasi sosialnya melalui lelambang pohon. Ada istilah ‘pohon silsilah’, misalkan, untuk merawi gegaris panjang susur-galur turun-temurun sebuah keluarga.

Saking identiknya dengan pohon, bahkan meskipun Francis Bacon, renaisans dari abad ke-17 itu berhasil meyakinkan dunia bahwa sejarah bukanlah filsafat, melainkan historia, dan lantas sejak itu dunia ramai-ramai memakai istilah “historis”, Melayu tetap melabeli kepurbaannya dengan istilah sendiri: sejarah –dari kata ‘asy-syajarah’ alias pohon-pohon.

Tidak ada yang salah dalam kalimat “aku minta maaf”. Namun di Hari Marwah di pintu Ramadan ini, hemat saya, kalimat “kupohonkan maaf” terdengar lebih membumi. Nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya seakan mendedahkan pencerahan yang sublim. Meminta maaf, diam-diam, seperti meninggalkan kesan opsional semata. Dikabulkan, syukur. Ditolak, ya, pasrah.

Baca Juga :  Mertua Syahrul Berpulang

Tetapi tatkala maaf dipohonkan, ia tidak semata berhenti di titik al-afwu, menghapus amarah yang mengotori batin. Maaf yang dipohonkan, saat itu juga sesungguhnya langsung menawarkan semacam diplomasi kemitraan baru. Bagaimana kalau kita berteduh di pohon yang sama, bersinergi melebatkan buah-buah ranum untuk hari depan dst dst?

Syahdan, Abu Bakar begitu marah dengan pembantunya yang menyebarkan hoax tentang putrinya yang juga istri Rasulullah, Aisyah. Abu Bakar bersumpah tak akan membiayainya lagi. Allah SWT melarang sikap Abu Bakar tersebut. Lalu turunlah firman Allah dalam QS An-Nur ayat 22, yang memerintahkan dua kebajikan: maafkan dan berlapang dadalah (al-shafhu).

Ternyata, setelah al-afwu, ada yang lebih hebat. Berlapang dada. Al-shafhu. Dari kata al-shafhu pula, terbentuklah kata ‘shafhat’ yang artinya halaman atau lembaran. Subhanallah.

Mudah-mudahan menjadi relevan. Bahwa dengan “memohon maaf”, dan bukan sekadar “meminta maaf”, kita mengoperasikan dua kemuliaan sekaligus. Pertama, memupus semua amuk-benci dalam kalbu, lalu, kedua, di saat bersamaan mengajak orang yang kita pohonkan maafnya untuk bersama-sama membuka lembaran baru.

Boleh jadi refleksi Hari Marwah tahun in sebenarnya sangat sederhana. Sebuah hari yang letaknya berdekatan dengan Ramadan, agar kita mulai melatih diri untuk ringan memohon maaf pada sesama dengan semangat al-afwu dan al-shafhu. Kikis semua kesedihan. Optimis menatap masa depan.

Baca Juga :  Mertua Syahrul Berpulang

Kembalikan tuah makna “memohon” itu ke marwah katanya yang sejati, di bawah teduh rindang pohon nilai universalitas budaya Melayu. Entah tesampuk jembalang laut mana kita pada hari ini tiba-tiba “memohon” itu lebih rendah derajatnya dari “meminta”.

Hari Marwah adalah hari belajar yang pantas bagi kita untuk tidak lagi malu-malu dalam memohon. Para pencinta Hari Marwah, memohonlah. Karena dengan memohon, kita tak perlu lagi menjadi tidak kreatif setiap tahun setiap menjelang tanggal 15 Mei, dengan selalu mengumbar gosip kebencian menggulingkan pemerintah daerah yang sah.

Jadilah Melayu yang al-afwu, dengan pertama-tama, dan terutama, memaafkan dirimu sendiri.

Kepala Daerah, memohonlah. Buat apa malu. Sebab hanya dengan memohon, rakyat Kepri akan tahu apakah Gubernur Kepri itu memang menginginkan semua elemen masyarakat bersatu padu dalam spirit al-shafhu, bukan seperti yang naudzubillahi min zalik dituduhkan selama ini: karimunisasi? Open bidding yang hasilnya open bid’ah?

Bahwa Bang Din selama ini tampak selalu berusaha ingin kelihatan lucu agar masyarakatnya happy, kami pohonkan terimakasih yang mendalam. Tapi, mohon maaf, tertawa bedengkang-dengkang saja belum memberikan garansi apa-apa di mata rakyat mengenai sebuah pemerintahan transisi yang bermarwah, kuat dan berdaulat.

Akh, pasti kita semua pernah mendengar Iwan Fals: “kalau hanya senyum yang engkau berikan, Westerling pun tersenyum…” ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here