Relevansi Pengenalan Lingkungan Sekolah

0
968
Dian Fadillah, S.Sos

Oleh : Dian Fadillah, S.Sos
Pemerhati Pendidikan dan Jalan-Jalan

PPDB ONLINE ataupun tidak online di Indonesia untuk Periode 2017/2018 sudah dilaksanakan dengan fenomena masing-masingnya. Ada yang sukses maksimal di sebahagian daerah dan ada juga yang masih terkendala dengan permasalahan jaringan sampai dengan perangkat yang digunakan. Meskipun demikian, kegiatan itu sudah selesai dengan catatan tertentu termasuk demonstrasi orangtua calon murid/siswa dengan kondisi online yang katanya sudah sangat Sistemik dalam suksesi penyelenggara kegiatan ataupun instansi terkait yaitu Kemendikbud di Jakarta terutama menggunakan jaringan internet Telkom yang langsung terkoneksi dengan Kemenkominfo.

Jaringan itu modemnya langsung berhubungan dengan produk Telkom sehingga akhirnya muncul permasalahan-permasalahan itu yang bermuara ke celoteh serta komplin ke Disdik tingkat kabupaten-kota dan provinsi masing-masing.
Setelah dilakukan identifikasi masalah akhirnya diambil langkah pintar dengan melakukan pendaftarannya secara (offline) atau manual (tidak melalui online) sebagaimana yang disampaikan pada saat masalah pada kejadian di Bekasi beberapa waktu yang lalu.

Momentum itu sekarang sudah kita tinggalkan dan pandangan kita tujukan pada Peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui Peraturan Menteri (Permendikbud) Nomor 18 tahun 2016 Tentang “Pengenalan Lingkungan Sekolah”.

Baca Juga :  Startup Pariwisata Gayung Masa Depan Daerah

Ini merupakan istilah pengganti MOS (Masa Orientasi Siswa) dengan harapan dapat merubah paradigma masyarakat luas mengenai pelaksanaan terdahulu yang dikenal dengan notabene masih adanya perpeloncoan dan pelanggaran.
Untuk pedoman pada Tahun Ajaran 2017/2018 tidak jauh berbeda di tahun sebelumnya dengan tujuannya yang bagus, yaitu untuk melatih mentalitas siswa baru agar lebih kuat dan tidak cengeng di tingkat dan level SLTA sederajat.

Meskipun dalam kenyataan di lapangan bahwa pribadi setiap anak berbeda-beda. Ada yang senang menerimanya tapi ada juga yang tidak bisa menerimanya sama sekali sehingga menimbulkan tekanan batin yang secara physikis memicu sebuah insiden yang terkadang sampai jatuh pingsan. Reaksi orangtua juga berkoneksi dengan tindak lanjut berikutnya dan dianggap lari dari tujuan awal sebuah orientasi yang mengarah kepada penyalahgunaan kegiatan sehingga perlu diseragamkan kembali dalam pelaksanaanya.

Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru dilakukan bersifat edukatif dan kreatif untuk mewujudkan sekolah sebagai Taman belajar yang menyenangkan dengan tidak dibenarkannya atribut-atribut aneh-aneh, penyiksaan dari kakak kelas terhadap anak baru dan lain sebagainya. Pengenalan ini diberlakukan untuk pengenalan program sarpras sekolah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri dan pengenalan sejak dini tentang kultur di sekolah yang baru.
Karena bagaimanapun MPLS itu lebih bertujuan kepada mengenal potensi diri, membantu beradaptasi dengan lingkungan sekolah, menumbuhkan motivasi, semangat dan cara belajar efektif dengan mengembangkan interaksi dan perilaku positif sehingga memiliki nilai integritas, etos kerja dan semangat gotong royong yang diharapkan.

Baca Juga :  Tentang Pro-Kontra Istilah Emak-emak

Tujuan nyata itu akan diarahkan untuk Indonesia golden age nantinya.
Guru pendamping yang ditugaskan akan melaporkan kepada kepala sekolah sebagai pimpinan bertanggungjawab penuh secara langsung apabila tidak sesuai dengan aturan yang ada dengan sanksi yang sudah ditetapkan termasuk dalam atribut yang dilarang untuk digunakan. Diantaranya tas karung/belanja, kaos kaki warna warni, asesoris kepala dan alas kaki yang tidak wajar, papan nama rumit dan memberatkan, dan tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran termasuk memberikan tugas membawa produk merek tertentu.

Baca Juga :  Membangun Kepri dengan Modal Kebahagiaan

Menghitung yang tidak bermanfaat, memakan dan meminum barang sisa sehingga berakibat melanggar pedoman yang sudah disiapkan dan ditetapkan untuk dapat dijalankan bersama dalam Permendikbud No. 18 tahun 2016. Sehingga siswa baru yang diharapkan dapat merubah paradigma masyarakat secara luas tentang sebuah orientasi di periode sebelumnya miris untuk didengar/dilihat sebagai wajah pendidikan nasional Indonesia.

Sebagai negara berkembang di Asia yang bersifat edukatif dan kreatif untuk mewujudkan suasana sekolah yang penuh semangat untuk dimulai pada awal tahun ajaran ini yang dapat menjadi tolak awal kemajuan dunia pendidikan seperti di kawasan Asia, Amerika dan Eropa.

Sehingga acuan baru ini akan dapat memperlihatkan dampak yang signifikan kepada peserta didik baru, sekolah, orang tua dan masyarakat yang secara kontinuitasnya dapat diberlakukan kembali untuk Menteri periode berikutnya, dapat berelevansi terhadap pola pikir kemajuan pendidikan produktif masa depan anak bangsa.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here