Remaja Masjid Sebagai Human Capital Dalam Membangun Kepri

1
1014
Totok Haryanto, SE., MM

Oleh: Tatok Haryanto, SE, MM
Pengurus PGRI Warga Tanjungpinang

Istilah masjid berasal dari Bahasa Arab, dari kata “sajada, yasjudu, sajdan” artinya “membungkuk dengan khidmat, sujud, dan berlutut”. Untuk menunjukkan suatu tempat, kata “sajada” diubah menjadi “masjidan” artinya “tempat sujud menyembah Allah SWT”.

Dengan demikian secara etimologi, arti masjid adalah menunjuk kepada suatu tempat (bangunan) yang fungsi utamanya adalah sebagai tempat salat untuk bersujud menyembah Allah SWT.

Fungsi masjid yang paling strategis dan fundamental adalah untuk pusat pembinaan umat, bahkan menjadi pusat peradaban Islam. Salah satu komponen umat yang menjadi sasaran masjid dalam pembinaannya adalah kaum remaja. Keberadaan remaja masjid merupakan salah satu dari beberapa stakeholders dari sebuah organisasi masjid.

Dalam perspektif al-Quran, signifikasi masjid melakukan pembinaan kepada remaja didasarkan pada penjelasan al-Quran, bahkan umat Islam perlu mencontoh generasi Ashab al-Kahfi dalam mempersiapkan generasi muda.

Mereka adalah generasi yang memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Allah, serta mampu mempertahankan keyakinannya di hadapan penguasa yang ingin merusak keimanannya kala itu.

Di dalam hadist juga dijelaskan betapa remaja perlu diberikan bekal pengetahuan dan pengalaman hidup agar remaja tumbuh dewasa dan senantiasa mengabdi kepada Allah SWT. Remaja inilah yang nantinya mendapatkan perlindungan di hari kiamat.

Usia remaja merupakan gerbang menuju kedewasaan. Jika ia berhasil melalui gerbang ini dengan baik, maka tantangan-tantangan di masa depan selanjutnya akan relatif mudah diatasi oleh mereka.

Begitupun sebaliknya bila ia gagal, maka pada tahap perkembangan berikutnya besar kemungkinan akan terjadi masalah pada dirinya. Oleh karena itu, agar perkembangannya berjalan dengan baik, setidaknya ada 5 (lima) aspek penting yang harus dicermati, baik oleh orang tua, pendidik, ta’mir masjid, dai, maupun si remaja itu sendiri.

1. Kondisi Fisik
Penampilan fisik merupakan aspek penting bagi remaja dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Biasanya mereka mempunyai standar tertentu tentang sosok fisik ideal yang mereka dambakan.
Remaja perlu menanamkan keyakinan bahwa keindahan lahiriah bukanlah makna sesungguhnya dari kecantikan dan ketampanan. Kecantikan dan ketampanan sejati justru bersumber dari hati nurani, akhlak, serta kepribadian yang baik.

Baca Juga :  Cara Pembayaran Zaman Now, Apa Manfaatnya?

2. Kebebasan Emosional
Pada umumnya, remaja ingin memperoleh kebebasan emosional. Mereka ingin bebas melakukan apa saja yang mereka sukai. Tidak heran sebab pada masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, seorang remaja memang senantiasa berusaha agar pendapat atau pikiran-pikirannya diakui dan disejajarkan dengan orang dewasa, dalam kedudukannya yang bukan lagi sebagai objek.
Jika terjadi perbedaan pendapat antara anak dengan orang tua, maka pendekatan yang bersifat demokratis dan terbuka akan terasa lebih bijaksana. Salah satu caranya dapat dilakukan dengan membangun rasa saling pengertian, yang masing-masing pihak berusaha memahami sudut pandang pihak lain.

3. Interaksi Sosial
Kemampuan untuk melakukan interaksi sosial juga sangat penting dalam membentuk konsep diri yang positif sehingga mereka mampu melihat dirinya sebagai orang yang kompeten dan disenangi oleh lingkungannya.
Konsep pergaulan semestinya lebih ditekankan kepada hal-hal yang positif, seperti untuk mempertegas eksistensi diri atau guna menjalin persaudaraan, serta menambah wawasan yang bermanfaat. Dengan demikian, diharapkan ia dapat memiliki gambaran yang wajar tentang dirinya sesuai dengan kenyataan.

4. Aktualisasi Diri
Setiap kelebihan atau potensi yang ada dalam diri manusia sesungguhnya bersifat laten. Artinya, ia harus digali dan terus dirangsang agar keluar secara optimal. Dengan mengetahui dan menerima kemampuan diri secara positif, maka seorang remaja diharapkan lebih mampu menentukan yang tepat terhadap apa yang akan dijalani, seperti memilih sekolah atau jenis kegiatan yang akan diikutinya.

5. Pemahaman Nilai-Nilai Agama
Bagi keluarga muslim, tampaknya harus mulai ditanamkan pemahaman bahwa remaja sudah termasuk baligh. Artinya, ia sudah taklif atau bertanggung jawab atas kewajiban-kewajiban agama, serta menanggung sendiri dosa-dosanya apabila melanggar kewajiban-kewajiban tersebut.

Dengan pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai moral dan agama, maka lingkungan yang buruk tidak akan membuatnya menjadi buruk. Bahkan boleh jadi, si remaja sangguh proaktif mempengaruhi lingkungannya dengan kerangka agama.

Baca Juga :  Hardiknas: Momentum Perbaikan Dunia Pendidikan

Keberadaan masjid Al Amin yang tepatnya berada di Komplek Perumahan Griya Hang Tuah Permai, RT 06 RW 05 Batu 11 Tanjungpinang. Merupakan salah satu dari sekian tempat ibadah orang muslim di Ibukota Provinsi Kepri yang secara konsisten dan berkelanjutan memberikan ruang dan waktu kepada remaja untuk mereka mengeksploitasi potensi dirinya untuk ilmu-ilmu agama.

Keberadaan remaja masjid di sana memperoleh pendidikan agama Islam mulai sejak usia dini. Hal ini melalui program didikan subuh yang dilaksanakan setiap minggu pagi. Orang tua dan masyarakat juga memberikan peranan yang optimal sehingga terjalin sinergitas dalam mensukseskan program ini dari tahun ke tahun.

Pada hari Selasa malam, masjid ini juga mengadakan pengajian rutin yaitu berupa kajian tafsir Quran yang dibimbing langsung oleh Ustad Riza Al Hafiz pengasuh LBQ Kota Tanjungpinang.

Acara pengajian tersebut selain dihadiri oleh masyarakat dewasa juga diikuti oleh para remaja yang ingin meningkatkan pemahaman al-Quran untuk dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya untuk setiap hari Kamis malam, masjid ini juga dipenuhi oleh para jamaah baik yang berasal dari dalam komplek perumahan maupun dari masyarakat luar perumahan.

Kajian tafsir hadist menjadi menu utama dan disampaikan langsung oleh salah satu pengasuh pondok pesantren tertua dan terbesar dari Kabupaten Bintan. Yang tidak kalah pentingnya lagi sebuah agenda pembelajaran tahsin Quran khususnya untuk para kandidat imam masjid dan para jamaah yang ingin meningkatkan kualitas bacaannya, maka setiap hari sabtu pagi mereka bisa memperoleh materi training dari para ustad yang kompeten di bidang tersebut.

Sedangkan setiap jadwal ba’da salat subuh ada rutinitas agenda yaitu kultum subuh yang secara bergantian para jamaah yang istiqomah, mendapat giliran untuk menyampaikan materi sesuai bidang dan latar belakang pendidikan serta status sosialnya masing-masing.

Keberhasilan dalam memakmurkan masjid dengan melibatkan banyak unsur remaja ini tidak terlepas dari sistem manajemen kepengurusan masjid yang telah sekian lama dibangun oleh Ketua masjid sekaligus Kakanwil Departemen Agama Provinsi Kepulauan Riau Drs. H. Marwin jamal, MA.

Baca Juga :  Kebijakan Prilaku Hidup Bersih Dan Sehat, The New Normal Dalam Menghadapi Pandemik Covid-19

Sejak awal berdirinya masjid ini, beliau secara konsisten telah membangun pondasi sistem manajemen yang baik, sehingga para pengurus dan jamaah mudah memahami maksud dan tujuannya, yang tentunya sesuai dengan porsi dan peranan mereka masing-masing.

Provinsi Kepulauan Riau yang masih relatif muda ini, tentunya sangat membutuhkan dukungan dan peranan dari seluruh unsur masyarakat untuk bersama-sama memberikan kontribusi dalam mengisi pembangunan.

Keberadaan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi salah satu faktor penentu untuk keberhasilan pembangunan daerah. Dengan demikian penulis sebagai pengurus PGRI dan warga masyarakat Tanjungpinang sedikit menyampaikan ide/pemikiran bahwa kedudukan masyarakat usia remaja sebagai human capital perlu dijaga dan dibina eksistensinya.

Salah satu strateginya adalah melalui pembekalan ilmu agama sehingga mereka kelak akan tumbuh dan berkembang menjadi Sumber Daya Manusia yang memiliki soft skill untuk mengisi pembangunan Provinsi Kepulauan Riau ke depan.

Remaja muslim yang memperoleh pembekalan dan pembelajaran ilmu agama secara baik, maka mereka akan secara optimal mampu mengamalkannya dalam kehidupan bermasyarakat yang penuh kemajemukan.

Remaja muslim akan mampu hidup berdampingan dengan masyarakat yang berbeda keyakinan, secara terus menerus membawa kesejukan dan nilai-nilai toleransi yang tinggi.

Kondisi inilah yang sebenarnya menjadi impian dan dambaan bagi seluruh masyarakat. Provinsi Kepulauan Riau akan mampu melakukan percepatan pembangunan di segala bidang jika masyarakat yang penuh kemajemukan ini dapat saling bersinergi.
Dan salah satu kata kuncinya untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan semua pihak mau sepakat dan satu pemahaman bahwa generasi muda mampu sebagai human capital dalam membangun Kepri untuk lebih baik ke depannya.***

Loading...

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here