Rp12 Triliun Ikan Kepri Tak Dipanen

0
170
HASIL tangkapan nelayan Anambas yang berlimpah diangkut di pelabuhan. f-indra gunawan/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Sekitar Rp12 triliun potensi ikan di laut Kepri belum dimanfaatkan. Total potensi ikan di lautan Kepri sekitar 690 ribu ton. Yang dipanen baru 22 persen atau sekitar 151 ribu ton per tahun.

Berdasarkan data dari website Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang) Pemprov Kepri, penelitian yang dilakukan MV. SEAFDEC tahun 2006, diperkirakan total potensi sumber daya ikan di perairan laut Kepri sebesar 689.345,17 ton/tahun.

Dari sekitar 690 ribu ton tersebut, hanya 80 persen setahun yang bisa ditangkap atau sekitar 558 ribu ton. Aturan ini sesuai keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No.50/KEPMEN-KP/2017 tentang Estimasi Potensi, Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan di wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

Data Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan Perikanan yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) RI, tertanggal 14 Januari 2020, potensi ikan Kepri tahun 2017 yang ditangkap sekitar 151 ribu ton.

Sedangkan potensi ikan tangkap di Kepri sekitar 558 ribu ton. Yang ditangkap sepanjang tahun 2017 ini sekitar 22 persen saja.

Jika harga ikan dikalikan dengan Rp20 ribu per kilogram, maka potensi ikan Kepri sekitar Rp11,16 triliun. Jika diambil harga tertinggi Rp30 ribu per kilogram, maka potensi ikan Kepri sekitar Rp16,5 triliun.

Hasil tangkapan ikan dari perairan Kepri sepanjang tahun 2017 adalah 151 ribu ton atau sekitar Rp3 triliun jika harganya Rp20 ribu/Kg, atau Rp4,5 triliun jika harganya Rp30 ribu/Kg.

Dari jumlah ini, potensi ikan Kepri yang belum dimanfaatkan sekitar Rp12 triliun jika harganya Rp30 ribu/Kg atau sekitar Rp8,16 triliun jika harga yang diambil Rp20 ribu/Kg.

Secara nasional, potensi ikan di perairan Indonesia sekitar 12.541.430 ton. Jika dimanfaatkan 80 persennya, maka sekitar 10 juta ton yang bisa ditangkap.

Tahun 2017, hasil ikan Indonesia yang ditangkap masih sekitar 7.071.453 ton. Sekitar 3 juta ton belum maksimal. Jumlah ini naik dibandingkan tahun 2018 sebanyak 6.580.191 ton.

Terkait belum maksimalnya pemanfaatan ikan di laut Kepri, Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Kepri H Isdianto mengatakan, hal itu dikarenakan nelayan masih menggunakan alat tradisional dan kapal ukuran kecil.

Potensi ikan Kepri paling banyak di Natuna. Namun, nalayan pemilik kapal ukuran jumbo di Natuna hanya hitungan jari. Sehingga mereka tidak bisa mengarungi samudera untuk menangkap ikan ukuran besar dalam jumlah banyak.

Nelayan di Kepri kebanyakan mencari ikan di daerah tangkapan tradisional atau hanya beberapa mil dari pantai. Untuk masuk ke lautan lepas yang jaraknya belasan hingga seratusan mil, nelayan tidak berani karena kapalnya kecil.

Hal ini juga yang membuat lautan Natuna terutama di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia sering kosong. Sehingga kesempatan bagi Kapal Ikan Asing (KIA) untuk mencuri di perairan Natuna.

Hal yang sama juga pernah disampaikan Bupati Natuna, Hamid Rizal yang menyebutkan, potensi ikan tangkap di perairan Natuna sangat besar. Namun, hanya beberapa persen saja yang sudah ditangkap.

Persoalannya tetap pada kapal nelayan yang kecil dan alat tangkap ikannya tradisional. Butuh kapal ukuran 100 Gross Tonnage (GT) hingga 145 GT untuk menangkap ikan di perairan lepas Natuna.

Provinsi Kepri yang memiliki laut seluas 24.121.530,0 ha (96%) dan daratan seluas 1.059.511,0 ha (4%) menyimpan potensi pengembangan perikanan budidaya (akuakultur) yang sangat besar, terutama budidaya laut.

Diperkirakan terdapat kurang lebih 455.779,9 hektare areal laut yang berpotensi untuk pengembangan marikultur (budidaya laut) yang terdiri dari 54.672,1 ha untuk marikultur pesisir (coastal marine culture) dan 401.1079 ha untuk marikultur lepas pantai (offshore marine culture) yang tersebar hampir di setiap kabupaten/kota di Kepri. (mas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here