Rumah Singgah Istana Kota Rebah Hancur

0
116
Rumah Singgah di kawasan Istana Kota Lama sering disebut juga Kota Rebah sudah tidak terawat lagi. F-Andri Dwi S/tanjungpinang pos
Rumah singgah berada di kawasan wisata Istana Kota Lama di Kelurahan Kampung Bugis, Kecamatan Tanjungpinang Kota, semakin rusak parah.

TANJUNGPINANG – Ada empat rumah singgah yang dibangun di zaman pemerintah Walikota Tanjungpinang Hj Suryatati A Manan. Rumah singgah dibangun untuk pengunjung yang datang ke lokasi wisata tersebut untuk beristirahat . Empat rumah singgah di lokasi, terbuat dari kayu dan atapnya dari daun nipah tidak bisa difungsikan lagi. Juga karena termakan usia.

Pantauan di lokasi, beberapa fasilitas yang terdapat di Istana Kota Lama terlihat sudah rusak parah. Ada rumah singgah sudah roboh dan tidak layak dihuni. Kemudian, terlihat pendopo sampai dengan fasilitas di toilet umum berada di kawasan Istana Kota Lama sudah tidak layak lagi digunakan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang H Surjadi saat dikonfermasi, mengatakan rumah singgah tersebut tidak dikembangkan lagi. Selain belum ada anggaranya untuk perbaikan, keberadaan rumah singgah juga tidak sesuai lagi dan tidak ada manfaatnya lagi.

”Kita tidak akan kembangkan itu lagi (rumah singgah, red). Karena tidak sesuai. Kalau dikembangkan tidak akan ada manfaatnya,” kata Surjadi, Kepala Disparbud Kota Tanjungpinang kepada Tanjungpinang Pos setelah menghadiri acara Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Tanjungpinang, Jumat (12/7).

Rencana ke depan, Disparbud Kota Tanjungpinang ingin kembangkan objek wisata pelantar mangrove Kota Rebah.

Pelantar mangrove sudah cukup terkenal hingga banyak dikunjungi masyarakat. Baik itu masyarakat lokal maupun dari luar daerah KOta Tanjungpinang.

Memang, kata dia, ada beberapa kegiatan di lokasi tersebut. Kegiatan tersebut bukan berasal dari APBD Kota Tanjungpinang.

Tapi, kegiatan tersebut berasal dari APBD Pemprov Kepri. Salah satunya seperti adanya kursi besi berada di lokasi tersebut.

”Kami akan singkronkan dan kooridnasikan dengan konsep cagar kebudayaan. Sehingga jangan sampai ada yang keliru. Karena itu merupakan situs penting sejarah Hulu Riau.

Terkait rumah tersebut, pihaknya akan koordinasi dengan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Tanjungpinang terkait aset.

”Kita juga sedang konsep cagar kebudayaan. Apabila ada yang melakukan pembangunan di lokasi tersebut, maka konsep tersebut yang akan digunakan. Ini loh konsepnya,” sebut dia. (ANDRI DS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here