Serang Orangtua dan Anak-anak

0
971
SEBERANGKAN SISWA: Gubernur Kepri H Nurdin Basirun menyeberangkan siswa SD di Karimun, kemarin. Nurdin meminta agar semua siswa SD dan anak-anak di Kepri diimunisasi agar bebas penyakit difteri.f-istimewa/humas pemprov kepri

Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Kepri, Tjepjep Yudiana mengatakan, difteri bukan penyakit baru. Namun, kadang muncul dan menyebar. Hanya saja, belakangan ini difteri tak hanya menyerang anak-anak lagi. ”Yang mulai berumur (remaja) juga sudah kena,” ungkapnya lagi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr Didi Kusmarjadi menyampaikan jika Batam masih aman dari penyebaran penyakit difteri.

Penegasan itu disampaikannya setelah sebelumnya Kementerian Kesehatan RI menetapkan penyakit difteri sebagai kejadian luar biasa (KLB). Dimana, saat ini 20 provinsi telah melaporkan adanya difteri, dengan 593 kasus dan 32 kematian.

Sebagaimana disampaikan Kadis Kesehatan Batam, dr Didi Kusmarjadi, Jumat (8/12), sampai saat ini belum ada laporan atau temuan penyakit difteri. ”Batam masih aman dari penyebaran penyakit difteri. Belum ada laporannya sampai saat ini,” kata Didi.

Baca Juga :  Hape Nokia Diproduksi di Batam

Dijelaskannya, penyakit difteri gejalanya ditandai dengan batuk. Namun jika dilihat lebih teliti, dibagian lehernya ada selaput yang tertutup. Sehingga menyebabkan anak tidak bisa bernafas dan menyebabkan meninggal.

”Karena selaput tertutup, menyebabkan anak meninggal. Anak tak bisa bernafas. Biasanya menyerang anak,” terangnya.

Didi melanjutkan, peta dari Kementerian Kesehatan, memang sudah banyak provinsi di Indonesia yang melaporkan kasus difteri.

Rata-rata provinsi itu juga mendapat rapor merah. Penyakit ini pernah menyerang dan kembali terulang, karena proses vaksin yang tak sempurna.

”Penyebabnya mungkin polcen ini vaksin turun, suhunya terjaga dengan baik sampai ke posyandu. Kadang-kadang polcen rusak. Tak terjaga suhunya,” ujar dia.

Menurut Didi, kemungkinan Batam, Kepri masih aman dari penyakit difteri, lantaran posisinya yang mayoritas di kelilingi laut. Sehingga pergerakan lambat. Sementara di daerah, dinilai pergerakannya cepat.

Baca Juga :  Warga Senggarang Upacara di Laut

”Kalau di darat, pergerakannya cepat,” kata Didi.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh mengatakan, difteri sudah luar biasa tahun ini. Selain itu, difetri tidak hanya menyerang anak, namun sudah masuk dengan orang tua.

”Ini sesuatu yang luar biasa karena pada kasus difteri 2017 tidak ada batasan umur. Umur yang termuda itu 3,5 tahun dan yang tertua 45 tahun,” katanya.

Bintan Aman dari Difteri
Kepala Dinas Kesehatan Bintan dr Gamma Isnaeni bersama tim Dinkes sudah melakukan pengecekan di lingkungan masyarakat, dan puskesmas. Dari hasil survei, Bintan aman dari penyakit difteri.

Baca Juga :  Mentan Sokong Kepri agar Mandiri Pangan

Menurut dr Gamma, upaya pengecekan difteri itu, karena menjadi isu nasional, setelah muncul kasus di Banten, Jakarta dan Jabar itu. Kemudian, di Karimun juga dicurigai ada anak diserang penyakit difteri ini.

”Kalau di Bintan, kita nyatakan aman. Jangan sampai ada kasus penyakit ini,” kata dr Gamma, Jumat (8/12) kemarin.

dr Gamma mengimbau agar masyarakat melakukan imunisasi anaknya, ke puskesmas maupun RSUD. selain itu, warga diharapkan jangan bepergian ke daerah yang terindikasi ada kasus difteri ini.

”Biar tidak terjangkit, tunda dulu lah ke Jawa, yang ada kasus difteri ini,” saran Gamma. (mas/mbb/fre)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here