Sutradaranya Modal Nekat dan Otodidak

0
2049
ADEGAN: Salah satu adegan dalam film Gangster Kampung Man yang diproduksi di Tanjungpinang.f-yoan/tanjungpinang pos

Film Gangster Kampung Man Dapat Respon 

Tuah Production dari Anambas memproduksi film yang dikemas dalam bentuk drama, action dan komedi berjudul ‘Gangster Kampung Man’.

TANJUNGPINANG – RUPANYA, respon masyarakat terhadap film ini cukup tinggi. Hal ini membuat salah satu sutradara senior Indonesia datang untuk bertemu dengan sang sutradara lokal ini. Setahun lamanya proses syuting dilakukan untuk menghasilkan film drama, action dan komedi berdurasi 1,5 jam tersebut di Tanjungpinang. Dan hasilnya bagus.

Respon cukup tinggi. Buktinya, kabar terkait aksi yang tertuang dalam film Gangster Kampung Man tersebut mampu menggugah penasaran Hanny Mustofa, sutradara senior Indonesia untuk bertandang ke Tanjungpinang.

Begitu juga dengan sang sutradara, Sarman Galang rela meninggalkan anak istrinya di Kota Batam pasca launching film garapannya tersebut Selasa lalu hanya untuk menyambut kedatangan sang senior.

Baca Juga :  Memerdekakan Pers

”Jujur, saya tidak kenal dengan dia (Sarman Galang, red) tapi ketika bertemu, akrabnya seperti orang yang sudah kenal puluhan tahun, kesan pertamanya saja saya salut,” kata Hanny menanggapi awal silaturahim dengan Sarman.

Sejenak kemudian, Hanny disuguhkan film fenomenal karya anak Kepri tersebut ke hadapan Hanny, kepala sang Sutradara film Kutukan Arwah Santet ini tampak manggut-manggut.

Sesekali dahinya mengernyitkan sebuah celah kritik, jemari yang mahir membelai kamera standar fil layar lebar itu juga tampak menuliskan catatan-catatan kecil buat Sarman. Sementara Sarman, dari pantauan awak media, tampak pasrah dengan segala kritikan dari kacamata sang senior, mengingat memang tujuan utamanya berjumpa tidak hanya sebatas silaturahmi namun juga menimba pengetahuan tentang film.

”Saye siap dibantai,” ujar Sarman kepada Hanny sembari menyunggingkan senyum persahabatan.

Terang saja, pasca menamatkan tontonan, Sarman didera dengan rentetan kritik pedas. ”Sound tidak standar, banyak adegan yang mubazir dan ada beberapa science yang canggung,” papar Hanny dengan nada serius.

Baca Juga :  Giliran Pantai Cermin dan Porgab Tersingkir

Sarman yang menyambut tegar komentar tersebut mengakui kemampuan terhadap beberapa tehnik perfileman yang belum dikuasainya.

”Apa? otodidak? gila kamu, kalau itu jawabannya saya salut dan angkat topi,” beber Hany yang mengaku takjub dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh keseluruhan perangkat pemain Gengster Kampung Man.

Selain kemampuan otodidak dan menggunakan biaya super minim, Sarman juga nekat menggandeng aktor lokal dengan peran yang ekstrim. Baginya, keterbatasan bukanlah kendala untuk mewujudkan mimpi dalam sebuah karya film layar lebar.

”Saya tahu banyak kelemahan karena minimnya ilmu kami terhadap film, makanya saya terima dengan segalanya kritikan. Bagi saya, semakin dikritik maka saya semakin banyak dapat tambahan ilmu secara gratis dari pakar yang lebih paham,” ungkap Sarman.

Baca Juga :  Kebijakan Kemendikbud Tidak Cocok di Kepri

Percakapan dua sutradara tersebut disaksikan langsung oleh awak media. Percakapan mereka tampak renyak dengan derai tawa yang tumpah. Bagi Hanny, Kepri banyak menyimpan harta karun besar di dunia perfileman, selain alam yang masih banyak yang perawan, ternyata para aktor dan pelakon juga banyak yang memiliki bakat yang langka.

”Saya siap bantu apapun keperluan kamu untuk film, jangankan ilmu, bila perlu alat dan kru saya datangkan. Saya salut sama kamu Sar, terus lanjutkan mimpimu,” kata Hanny mengakhiri pertemuan di salah satu sudut kafe Tanjungpinang hingga dini hari tersebut.(YOAN S)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here