Tahun Ini, Senggarang dan Tanjungunggat akan Bedelau

0
314
Warga saat berada di kawasan Kampug bugis, yang awalnya masuk kawasan kumuh, setelah dibangun jalan lingkar menjadi kawasan objek wisata baru. f-patria/tanjungpinang pos

Kementerian PU Anggarkan Rp22,5 Miliar

Tahun ini, Kementerian Pekerjaan Umum kembali menata kawasan kumuh Tanjungunggat dan Senggarang. Anggaranya Rp22,5 miliar. Ditambah anggaran lintas OPD Pemko dan Pemprov Kepri.

TANJUNGPINANG – Bila dua kawasan kumuh tersebut sudah dipercantik tahun ini, maka tinggal empat kawasan kumuh di Kota Tanjungpinang, dari dari 7 kawasah kumuh sesuai dengan SK Walikota Tanjungpinang tahun 2014.

Tahun 2018 lalu, Kementerian PU telah menata kawasan Kampung Bugis menjadi kawasan objek wisata baru di Kota Tanjungpinang.

Kawasan kumuh lainnya yang belum tersentuh penataan yakni, Pelantar Sulawesi, Pelantar Kamboja Tanjungpinang Timur, Tanjung Ayun Sakti, dan Kawasan Taman Impian ujung.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Kota Tanjungpinang, H Surjadi mengatakan, tahun ini dua kawasan kumuh yakni Senggarang dan Tanjungunggat akan di percantik seperti kawasan Kampung Bugis. Sumber anggarannya, gabungan dari dana APBN, APBD Pemprov Kepri dan APBD Kota Tanjungpinang. Kalau APBN sudah dianggarkan Rp22,5 miliar.

”Konsep pembangunannya kita minta sedikit berbeda dengan konsep pembangunan penataan kawasan kumuh di Kampung Bugis yang sudah selesai tahun lalu,” kata H Surjadi.

Mantan Kasat Pol PP Kota Tanjungpinang ini, mengatakan di dua lokasi tersebut akan dibangun jalan lingkar, pelantar, sanitasi, air bersih, alat pemadam kebakaran laut. Namun, di dua lokasi tersebut tidak dibuat cat warna warni seperti di Kampung Bugis, karena struktur rumahnya berbeda dengan di Kampung Bugis. Tapi, dua kawasan tersebut akan ditata semakin cantik.

”Kalau dana dari ABPD Pemprov Kepri dan APBD Kota Tanjungpinang, melibatnya lintas OPD. Jadi, anggarannya terpecah di masing-masing OPD terkait,”ujarnya.

Menurut dia, penetapan titik kumuh tersebut berdasarkan data dari surat keputusan Pemkot Tanjungpinang pada 2014. Berdasarkan kacamata Kotaku indikator kumuh di masing-masing titik tersebut belum ada pengurangan sampai pada 2017.

Ia menjelaskan bahwa ada 7 indikator utama penanganan kawasan kumuh, di antaranya bangunan, akses jalan, sanitasi, air minum, persampahan, pengelolaan limbah dan akses pemadam kebakaran. Sambung dia, di Kota Tanjungpinang, kawasan kumuh ada yang berat, ada yang sedang ada yang ringan.

Ia juga mengajak, bagi warga yang tinggal di lokasi yang sudah dipercantik, agar menjaga lingkunganya tetap bersih. Agar warga tetap bergotong royong, bagaiama agar kawasan tetap asri dengan menanam penghijauan.(ABAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here