Tarik Pajak Khusus Rokok FTZ

0
1266
ROKOK TANPA CUKAI : Seorang warga yang membawa rokok tanpa cukai diamankan Polsek KKP Tanjungpinang, kemarin. f-raymon/tanjungpinang pos

Lis Darmansyah: Mengapa Harus Gengsi Berkomunikasi?

Wali Kota Tanjungpinang H Lis Darmansyah mengajak Gubernur Kepri H Nurdin Basirun agar sama-sama mengusulkan penarikan pajak khusus dari rokok noncukai atau biasa disebut rokok FTZ (Free Trade Zone).

Tanjungpinang – LIS mengatakan, saat ini peredaran rokok FTZ ini menjadi isu hangat di daerah termasuk nasional. Karena itu, Lis punya ide menjadikan isu hangat tersebut ada manfaat untuk daerah.

”Ini menjadi isu hangat. Bagaimana isu hangat ini ada manfaat bagi daerah sendiri. Kita usulkan bersama-sama untuk ditarik pajak khusus,” ujar dia kepada Tanjungpinang Pos, Jumat (24/3).

Lis mengatakan, rokok FTZ ini banyak dijual pedagang kecil. Namun, pedagang kecil yang menjual rokok FTZ tersebut kadang dirugikan. Jika ada penangkapan, barang dagangan mereka disita dan dimusnahkan.

Sehingga, pedagang itu sendiri mengalami kerugian. Bahkan, modal mereka ikut habis. Lis pun meminta, oknum pemasok rokok FTZ mengganti modal para pedagang kecil itu.

Ia mencontohkan, seorang pedagang yang menjual rokok FTZ hanya dapat untung sekitar Rp 20 ribu per slop isi 10 bungkus. Jika ada razia, semua rokok mereka disita dan dimusnahkan.

”Pedagang ini hanya sebagai korban saja. Saya juga minta kepada Disperindag untuk memberikan pembinaan kepada para pedagang yang berjualan rokok tersebut,” sebut dia.

Wali kota juga meminta Badan Pengusahaan (BP) Kawasan FTZ Tanjungpinang agar aktif berkomunikasi dengannya. Bagaimana pun, ia merupakan wali kota di daerah ini.

Lis sendiri sudah melakukan komunikasi dengan BP Kawasan FTZ Kota Tanjungpinang, namun ia tidak tahu jenis rokok ilegal tersebut.

Karena ia sendiri tidak mendapat jawaban dari BP Kawasan FTZ Tanjungpinang yang merupakan instansi yang mengelola kawasan FTZ tersebut.

”Saya sudah pernah komunikasi dengan BP Kawasan FTZ Tanjungpinang. Saya tanya jenis rokok apa saja yang sudah dikeluarkan? Sampai saat ini saya belum dapat jawabannya,” kata Lis.

Jangankan jenis rokok, lanjut Lis, jumlah kuota rokok yang boleh masuk ke kawasan FTZ di Tanjungpinang ia tidak tahu.

Itu karena dirinya tidak pernah mendapat laporan dari BP Kawasan FTZ Tanjungpinang terkait rokok FTZ tersebut.

Baca Juga :  130 Bocah Ikut Sunatan Masal HUT Kodam I/BB

Ia melihat ini merupakan satu kelemahan. Orang gengsi melakukan koordinasi atau komunikasi. Kadang-kadang memiliki jabatan, gengsi untuk melakukan koordinasi.

”Kalau saya tidak malu melakukan koordinasi dengan bawahan. Kalau tidak percaya, tanya saja dengan lurah maupun OPD yang ada di Pemko,” ucap dia setelah selesai membagikan paket sembako gratis kepada warga kurang mampu di Kelurahan Tanjungunggat.

Lis mengatakan, tak perlu malu untuk melakukan koordinasi untuk melakukan komunikasi dengan siapa saja. Karena melakukan komunikasi adalah membangun hubungan kedekatan dengan lainnya.

”Ketua RT saja selalu melakukan komunikasi dengan saya. Begitu juga saya sering melakukan komunikasi dengan perangkat Ketua RT yang ada. Cobalah tanya dengan mereka,” terang dia.

Politisi PDI Perjuangan Provinsi Kepri ini berpesan, peredaran rokok ilegal jangan dijadikan alat oleh oknum.

”Kita harapkan sama-sama memikirkan untuk mengusulkan ke pusat, bahwa meminta rokok FTZ diberikan pajak khusus untuk daerah,” katanya mengulangi.

Gubernur Evaluasi
Gubernur Kepri H Nurdin Basirun meminta staf khusus pemprov bidang ekonomi dan pembangunan mengevaluasi siapa yang mengeluarkan izin kuota rokok di Tanjungpinang supaya sesuai dengan kebutuhan jumlah penduduk di kawasan FTZ setempat.

”Saya minta di evaluasi balik. Siapa yang mengeluarkan rekomendasi kuota impor rokok di kawasan bebas dievaluasi sesuai dengan kebutuhan. Kita tidak mau rokok-rokok yang bukan kawasan industri beredar di tempat lain. Saya sendiri tidak merokok,” tegas Nurdin, kepada staf ahli bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Kepri, Syamsul Bahrum di Dompak kemarin.

Nurdin berterimakasih karena sudah diberi informasi langsung dari masyarakat bahwa telah marak beredar rokok FTZ di kawasan nonFTZ.

”Saya setelah dapat informasi itu, langsung respon kok. Kita harap BP Kawasan membuat sebuah rekomendasi pasti,” tambah Nurdin.

Nurdin menyampaikan, bahwa informasi di tengah masyarakat saat ini marak beredar di semua kalangan. Termasuk di Kota Tanjungpinang.

Rokok Bebas Pajak Khusus FTZ
Di Kepri, terdapat empat Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBB) yakni Pulau Batam, di Karimun (enclave), di Bintan (enclave) dan di Tanjungpinang (Enclave).

Baca Juga :  Atlet Dunia Ramaikan Ironman 70.3 Bintan

Pulau Batam menyeluruh dijadikan kawasan FTZ, namun tidak termasuk pulau di sekitarnya seperti Rempang, Galang, Belakapangpadang, Buluh dan lainnya. Penetapan FTZ Batam sesuai PP No.46 tahun 2007.

Kemudian, kawasan FTZ Karimun tidak menyeluruh atau hanya sebagian (enclave) yang diatur di PP No.48 tahun 2007.

Untuk Pulau Bintan, kawasan FTZ diatur di PP No.47 tahun 2007. Awalnya, kawasan FTZ hanya di Bintan. Namun, kawasan FTZ Tanjungpinang kemudian diperjuangkan.

Akhirnya, dua kawasan di Tanjungpinang ditetapkan menjadi kawasan FTZ namun tidak dibuat dalam PP tersendiri. FTZ Tanjungpinang melekat di PP No.47 tahun 2007 tersebut.

Karena itu, badan yang mengurusi FTZ Tanjungpinang lain penyebutannya yakni, Badan Pengusahaan Kawasan Pelabuhan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan Wilayah Kota Tanjungpinang.

Sesuai dengan PP No. 47 Tahun 2007 Wilayah Bintan Kawasan Kota Tanjungpinang telah ditetapkan sebagai kawasan FTZ yang berlokasi di Dompak dan Senggarang.

Secara administrasi, kawasan FTZ Dompak berada di Kelurahan Dompak Kecamatan Bukit Bestari Kota Tanjungpinang dengan luas kawasan ±1.300 Ha.

Sedangkan kawasan FTZ Tanjungpinang di Senggarang sekitar 1.333 hektare. Dua kawasan ini kebanyakan lahan kosong dan penduduknya juga sangat sedikit.

Di kawasan FTZ ini, BP Kawasan Tanjungpinang sudah mengeluarkan izin gudang penyimpanan rokok noncukai tersebut. Namun, kebanyakan rokok ini merembes. Sehingga masyarakat menyebutnya rokok FTZ.

Secara gampangnya, kawasan FTZ sama dengan luar negeri dari segi ekonomi. Namun tetap wilayah NKRI dari segi administrasi dan geografis.

Rokok yang diproduksi di kawasan FTZ, untuk kebutuhan warga di kawasan itu. Rokok ini bebas cukai. Sehingga harganya murah. Namun, jika dibawa keluar daerah FTZ, maka harus dikenakan pajak.

Karena itu, rokok FTZ yang banyak beredar di Tanjungpinang harganya sekitar Rp 7 ribu hingga Rp 9 ribu per bungkus. Di Batam, karena seluruh pulaunya ditetapkan jadi kawasan FTZ, harga rokok non cukai itu sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu per bungkus.

Baca Juga :  Dulu Paling Padat, Kini Jadwal Diperlambat

Biasanya, rokok FTZ itu selalu dituliskan khusus kawasan FTZ. Warga pun menyebutnya, rokok FTZ.

Rokok yang merembes ke daerah non FTZ, harusnya bayar pajak. Dan harganya pun akan selangit.

Pedagang Rokok Tanpa Cukai Ditangkap
Jajaran Polsek Sri Bintan Pura Tanjungpinang berhasil seorang pelaku Mengkun alias Ahui (35) pelaku pembawa 7 ribu bungkus rokok ilegal merek H-Mind di Pelabuhan Pelantar II, Jumat (24/3).

Kepala Pos Pelabuhan Pelantar II Polsek Pelabuhan Sri Bintan Pura Aiptu Jhon Ferry Marpaung mengatakan, pelaku ini sudah lama menjadi incaran pihaknya.

Kebetulan ketika pihaknya melakukan pengincaran pelaku didapati sedang membawa banyak kardus rokok merek U-mild dengan menggunakan mobilnya.

”Setelah diperiksa ternyata dalam kardus rokok itu terdapat banyak bungkus roko merek H-Mind ilegal,” katanya.

Jhon mengungkapkan rokok itu sudah sering dibawa pelaku dengan menggunakan kapal dari Batam ke Pelabuhan Roro di Tanjunguban.

Setelah sampai di sana, pelaku mengganti kardus rokok itu dengan kardus rokok U-Mild yang rencananya akan dijual di Pulau Tujuh dengan menggunakan kapal pelaku sendiri.

”Sudah sering membawa rokok itu ke pelabuhan sini. Modusnya dengan mengganti kardus H-Mind ke kardus rokok U-Mild setiap kali ingin membawa ke Tanjungpinang,” ungkapnya.

Menurutnya, ketika pelaku ditangkap, pelaku membawa nama-nama angkatan dengan tujuan agar pelaku tidak ditangkap. Tetapi setelah ia berkoordinasi dengan pimpinan pelaku akhirnya berhasil mengamankan barang bukti rokok tersebut.

”Saat diamankan dia membawa-bawa nama angkatan, tapi saya tidak takut. Saya lihat pelaku masih membawa barang bukti rokok itu di dalam mobilnya,” ungkapnya.

Setelah diamankan ke Mapolsek Pelabuhan SBP Tanjungpinang dan dihitung barang bukti rokok H-Mild itu ada sebanyak 7 ribu bungkus dari 7 ratus slop.

Barang bukti bersama pelaku saat ini sudah diamankan ke pihak KPPBC Tipe Madya Pabean B Tanjungpinang untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. (Redaksi)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here