TPID Bahas Mahalnya Harga Ayam Potong

0
429
Warga membeli ayam potong di pasar Bintan Centre. f-andri/tanjungpinang pos

TANJUNGPINANG – Harga daging ayam potong di sejumlah pasar tradisional di Tanjungpinang, terus melambung tinggi. Daging ayam potong kini di jual dengan harga Rp42 ribu hingga Rp45 ribu per kilonya. Naiknya harga daging ayam dipicu akibat pasokan minim dari peternak. Dan, di perparah tingginya harga pakan ayam. Mahalnya harga daging ayam di bulan Juli dibahas dalam rapat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Tanjungpinang di Ruang Rapat Lantai 2 Kantor Walikota Tanjungpinang, Senin (13/8). Rapat ini dipimpin langsung Sekretaris Daerah Kota, Riono.

Asong, peternak ayam sekaligus pemasok pakan dan obat-obatan ternak ayam, ikut dalam rapat TPID mengatakan harga ayam ras pedaging dari peternak masih kisaran Rp26 ribu hingga Rp27 ribu perkilogram. Sebelumya, kisaran Rp23 ribu per kilogramnya. Namun, harga dipasaran kirasan Rp42 ribu per kilogramnya. Menurutnya, naiknya harga ayam potong tersebut juga disebabkan cuaca yang kurang baik, disamping bibit DOC atau bibit ayam kurang baik masuk ke Tanjungpinang sehingga ayam tersebut mengalami pertumbuhan yang lambat.

Baca Juga :  Aku Cinta Sehat, Ayo Hidup Sehat Mulai dari Kita

Ditambah tingginya permintaan dengan stok terbatas juga berpengaruh terhadap kenaikan harga ayam potong di tingkat pedagang. Selain ayam potong, ayam beku juga mengalami kenaikan karena tidak ada masuk ke Tanjungpinang dari daerah asal.

Asong menprediksikan akhir Agustus harga daging ayam akan kembali normal, karena saat ini bibit ayam yang ada sudah mulai besar dan sudah diberikan pakan yang baik. Cuaca juga cukup bersahabat sehingga proses pertumbuhan ayam tidak sama seperti sebelumnya.

Perwakilan dari distributor kedelai, Antoni mengatakan harga kedelai naik karena pengaruh dari daerah asal disamping cuaca yang kurang baik.

Sementara itu, Kepala BPS Kota Tanjungpinang, , Mangamputua Gultom memaparkan untuk Inflasi bulan Juli 2018 Inflasi di Kota Tanjungpinang mengalami peningkatan menjadi 0,45% dibandingkan Inflasi bulan juni hanya 0,24%.

Namun, naik dan turun harga komoditi masih dalam kondisi wajar. Dan andil Inflasi menurut kelompok pengeluaran tertinggi disumbang oleh bahan makanan dan pendidikan.

Untuk penyumbang inflasi di bulan Juli diantaranya bayam, ikan tongkol dan daging ayam ras. Namun untuk perkembangan harga komoditi yang mengalami kenaikan harga di bulan Agustus selain ayam ras juga terjadi pada ikan kakap merah, kepiting, cumi-cumi dan sebagainya.

Baca Juga :  Produk Unggul IKM Dipamerkan MTQ Expo

Namun, dari data yang sudah BPS dapatkan untuk perkembangan Inflasi tahun kalender di Kota Tanjungpinang selama 7 bulan tarakhir di 2018 terus di bawah tingkat inflasi nasional dan Batam.

”Hal ini merupakan indikasi bahwa tingkat inflasi di Kota Tanjungpinang relatif cukup terkendali meskipun inflasi di bulan Juli 2018, kita sedikit lebih tinggi dari Batam dan nasional, namun masih tahap wajar dan terkendali.” Tutupnya.

Kemudian, Sudirman dari Bulog Tanjungpinang mengatakan persediaan stok beras, gula, minyak dan tepung masih tergolong aman. Untuk stok beras medium tersedia 1.900 ton, gula 72.000 kg, minyak 21.490 liter dan tepung 1.760 kg.

”Ini masih tergolong aman dan cukup untuk beberapa bulan ke depan,” ungkap Sudirman.

Perwakilan Bank Indonesia, Gunawan mengatakan pada Juli 2018, Kepri pada umumnya mencatatkan inflasi sebesar 0,27% (MTM). Sedangkan nasional mencatatkan inflasi sebesar 0,28% (MTM).

Baca Juga :  BFI Gelar Program Uber Miliaran 2018

”|Ini menunjukkan tingkat inflasi Kepri periode Januari 2017-Januari 2018 sebesar 4,38% (yoy) berada diatasnya nasional yakni 3,18% (yoy). Namun untuk Tanjungpinang, inflasi masih terbilang aman, stabil dan terkendali,” ungkap Gunawan.

Kelompok komoditas volatile food inflasi 2,46% (MTM) dengan andil terbesar inflasi pada komoditas bayam, kacang panjang dan daging ayam ras. Gunawan juga mengatakan, terdapat beberapa faktor pendorong inflasi pada bulan Agustus 2018 ini salah satunya faktor alam atau iklim yang berubah-ubah.

”Curah hujan cukup tinggi yang akan menghambat produksi pertanian, potensi angin kencang dan gelombang tinggi yang dapat memicu inflasi komoditas ikan, persiapan menjelang tahun ajaran baru terutama untuk universitas akan mendatangkan inflasi inti, kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada kenaikan harga avtur dan berpotensi mendorong peningkatan tarif angkutan udara,” papar Gunawan. (bas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here