Wan, Pada Wan Empuk dan Wan Malini

(Gelar Bangsawankah?)

0
2130
Atmadinata

Oleh: Atmadinata
Penikmat Sejarah Melayu

Adalah Bukit Siguntang Mahameru, sekarang di Kota Palembang menjadi saksi senyap ketika Wan Empuk dan Wan Malini pada suatu malam melihat pancaran cahaya putih menyinari sekutah Bukit itu, sesuatu yang tidak pernah ditemui sebelumnya.

Dibalut penuh rasa takut berbaur hairan kedua perempuan balu itu tertidur lelap di pondok mereka di lembah antara Sungai Tatang dan Bukit Siguntang.

Rupanya pada malam itulah awal muasal raja-raja negeri Melayu menurut historiografi tradisional terkenal buah kalam Datuk Bendahara Paduka Raja Tun Sri Lanang bertajuk Sulalatus Salatin, yang oleh penggemar riwayat negeri alam Melayu, dan penikmat sastra Melayu Klasik selalu disebut dengan Sejarah Melayu.

Pada awal pagi hari itu Wan Empuk dan Wan Malini bersegera menyusul tempat yang penuh cahaya benderang menyaksikan Bukit Siguntang sudah berubah jingga keemasan, terlebih padi huma mereka buahnya berjuntai emas, daunnya berubah perak, batangnya menjadi suasa, ajaib! sebagai pertanda seolah-olah memberi bukti tiga orang yang muncul dari Bukit Siguntang malam itu benar adanya mereka bukan ‘orang biasa’.

Tapi kedua perempuan yang sudah hampir melampaui usia paruh baya itu tetap melakukan interview kepada ketiga orang yang hadir di Bukit Siguntang dengan cara ajaib itu, tentang asal zuriat mereka, apa bukti tuan hamba zuriat Iskandar Zulkarnain? Mahkota kami ini, dan perubahan pada padi itu, Nila Pahlawan menimpali.

Wan Empuk dan Wan Malini membawa tiga orang Raja itu; Nila Pahlawan (Sang Se Perba), Krisna Pandita, dan Nila Utama (Sri Tri Buana) menjadi anak angkatnya.

Kata Wan Empuk dan Wan Malini, dijumpai paling mula termaktub pada bagian awal naskah Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) hasil goresan kalam Tun Sri Lanang yang diselesaikannya sekitar tahun 1612 Masehi ketika ia menjabat sebagai Datuk Bendahara Paduka Raja, semasa Sultan Abdullah Muayat Syah (Marhum Tambelan) bertahta.

Baca Juga :  Islam dan Hegemoni Global

Terdapat 29 versi Sejarah Melayu, di antaranya versi Raffles (1821), Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (1831), William Shellabear (1915), A. Samad Ahmad (1979), beberapa versi itu meriwayatkan sama tentang Wan Empuk dan Wan Malini dalam rangkaian hadirnya tiga beradik anak Raja yang menurut sahibul hikayat ketiga orang itu sangat muda taruna, datang ke Bukit Siguntang, bermahkota, dengan pakaian bertatah ratna mutu manikam, mereka merupakan zuriat Iskandar Zulkarnain yang termashur itu, dalam Sejarah Eropa populer dengan nama Alexander the Great.

Setelah itu tidak ada lagi babad, hikayat, atau batu tulis yang mengisahkan dua perempuan balu tua itu hingga akhir hayatnya, kecuali naskah belakangan yang mengutip cerita itu dari Sulalatus Salatin.

alih-alih tempat pusara Wan Empuk dan Wan Malini berada di Bukit Batu hingga sekarang, berhampiran dengan Bintan Buyu di lereng kaki Gunung Bintan, padahal baris demi baris dalam Sejarah Melayu, tidak disebut kedua perempuan itu ikut serta dalam perahu kafilah Sang Nila Utama (Sri Tri Buana) yang ditemani mertuanya Demang Lebar Daun dan istri nya Radin Ratna Candra Puri menunaikan hajatnya melihat laut.

Hajatnya yang semula melihat laut menjadi kisah panjang dalam Sejarah Alam Melayu, ketibaan iring-iringan perahu dari Muara Sungai Musi hingga berlabuh di perairan Sambu, terdengar oleh anak Ahyar Aya, Wan Sri Beni Raja Bintan kala itu memberi titah kepada kedua petinggi Bintan Arya Bupala dan Menteri Bupala supaya menjemput Raja besar dari Bukit Siguntang untuk dirajakan di negerinya

Baca Juga :  Waspadai Isu Pemindahan Ibukota Bisa Jadi Upaya Pengalihan Isu

Sampai pada penggalan ini dalam narasi Sulalatus Salatin itu ditemukan ada tiga sapaan di depan nama perempuan tua menggunakan kata wan ; Wan Empuk, Wan Malini, dan Wan Sri Beni. Apakah makna kata wan yang mengiringi ketiga nama perempuan itu?

Tidak satupun kata wan narasi demi narasi dalam naskah tua tersebut ditemukan mengiringi nama laki-laki, mengapa?

Tokoh wan yang ketiga, adalah Wan Sri Beni terkategori sudah tua juga, ini dapat disimpulkan dari deskripsi yang diuraikan oleh Tun Sri Lanang dalam dialog antara Menteri Bupala dengan Wan Sri Beni untuk menjemput rombongan Sang Nila Utama masuk dalam negeri Bukit Bijana di Kaki Gunung Bintan.

“jikalau ia tua katakan adinda empunya sembah, jikalau ia muda katakan bonda empunya salam”. Menteri Bupala dan Aria Bupala tercengang setelah melihat tokoh itu, ternyata Sang Nila Utama jauh lebih muda dari Wan Sri Beni, tengah muda, bangun teruna, lalu diakui sebagi anak oleh Wan Sri Beni.

Dalam stratifikasi sosial masyarakat Melayu, wan adalah sebagai salah satu sebutan gelar hingga sekarang masih terpelihara, dapat dipahami tidak sedikit orang menyangka wan didepan nama Empuk, Malini, dan Sri Beni sebagai gelar aristokrat, gelar bangsawan, sebagaimana lazim didapati gelar wan di depan nama orang di beberapa daerah di alam Melayu Raya.

Hingga berakhirnya masa keemasan gilang gemilang Kerajaan Malaka sampai 100 tahun setelah runtuhnya malaka, tidak ada ditemukan dalam mana-mana naskah sejarah, hikayat, memoar para pelaut, dan catatan musafir yang menyebut nama orang yang bergelar wan.

Gelar wan sebagai salah satu gelar bangsawan yang memposisikan bangsa wan itu pada stratifikasi sosial dalam masyarakat Melayu di Kelantan misalnya baru diawali ketika sekitar tahun 1610, ketika Cik siti Wan Kembang menjadi Ratu Kelantan.

Baca Juga :  Kawasan tanpa Asap Rokok

Seseorang yang beribukan Tengku, berayahkan dari lelaki kebanyakan, zuriat mereka diberi gelar wan, begitu juga yang berlaku di Deli, Serdang (http://www.sembilanbelas.id/2014/07/gelar-kebangsawanan-kerajaan-dan.html), di Siak tentu gelar Wan lebih muda lagi, karena Kerajaan Siak baru ditubuhkan tahun 1722 di Buantan, ketika Raja Kecil kalah dalam perang dengan Tengku Sulaiman (nanti menjadi Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah).

Lalugelar bangsawankah wan yang di depan nama Wan Empuk, Wan Malini, Wan Sri Beni? kata wan seperti ini hingga sekarang masih dapat ditemukan pada komunitas masyarakat Tambelan, Anambas, Natuna dan juga pada masyarakat Sambas di Kalimantan Barat sebagai kata sapaan untuk menyebut ibu dari ayahnya atau ibu dari maknya, nenek bahasa Indonesia nya, bagi yang menyenangi serial film kartun “Pada Zaman Dahulu” yang ditayangkan oleh salah satu stasiun TV swasta nasional pada setiap pukul 09.00 pagi, kata wan digunakan sebagai kata yang sama artinya dengan nenek, dan aki sebagai kata untuk berbahasa menyebut kakek.

Cerita serial film kartun yang berasal dari Malaysia ini, semakin mengukuhkan bukti bahwa kata wan masih dirawat, terpelihara pada sebagian masyarakat yang berkultur Melayu, sebagai kata untuk menyapa secara santun perempuan Melayu yang menjadi mak dari ibunya, atau mak dari ayahnya, juga sebagai sapaan sopan untuk perempuan yang sudah dipandang tua, nenek. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here