Waspadai Inflasi si Pemiskin

0
1446
Panusunan Siregar

Oleh: Panusunan Siregar
Bekerja di Badan Pusat Statistik Provinsi Kepri

Ketika pemerintah mau memperkirakan besaran APBN, ada sederetan indikator asumsi yang ditetapkan, seperti tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, neraca pembayaran, penerimaan pajak, volume lifting minyak dan gas, kurs rupiah, dan indikator-indikatot makro lainnya.

Dari semua indikator asumsi tersebut, diskusi penetapan angka inflasilah yang paling alot untuk diputuskan. Kenapa? Karena level inflasi, memiliki keterkaitan yang luas dan erat dengan indikator-indikaor makro lainnya, seperti suku bunga, kurs rupiah, kemiskinan, dll.

Sebagai contoh, inflasi yang stabil dan rendah akan menjadi daya tarik bagi investor asing untuk berinvestasi ke Indonesia. Dan bilamana banyak investor asing masuk ke wilayah R.I, berarti ketersediaan/stock devisa dalam negeri akan semakin bertambah, dan dampaknya akan mendorong penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Lebih jauh, akan dapat meningkatkan kekompetitifan produk-produk dalam negeri di pasar internasional yang pada gilirannya akan meningkatkan lagi jumlah devisa di pasar domestik yang berarti meningkatkan atau memperkuat nilai kurs rupiah.

Secara formula, inflasi adalah rasio dari indeks harga konsumen (IHK) periode berjalan (t) terhadap IHK periode sebelumnya (t-1) dikurangi satu dan dikalikan 100 %.

Bila hasilnya positif disebut inflasi (kenaikan harga secara agregat) dan bila negatif disebut deflasi (penurunan harga secara agregat). Inflasi yang tinggi menunjukkan perilaku harga yang bergejolak, dan inflasi rendah menunjukkan gejolak harga yang relatif stabil.

Inflasi sebagai refleksi naiknya harga barang dan jasa yang diperjualbelikan di pasar umum, sering dijuluki “si pencuri uang” yang notabene tidak dapat dipidanakan.

Dia mencuri uang rakyat dengan cara menggerus daya beli. Misalnya, ketika seorang buruh memiliki upah sebesar Rp 100 ribu mampu membeli beras 10 Kg dan ketika harga bergejolak (terjadi inflasi), uang yang sama hanya mampu membeli 8 Kg beras dan 2 Kg dicuri si Inflasi.

Pencurian seperti di atas, tidak terlalu mengganggu bagi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke atas. Tetapi bagi mereka yang berada pada lapisan masyarakat berpenghasilan 40 % terbawah, apalagi kelompok masyarakat hampir miskin (sedikit di atas garis kemiskinan), dampaknya relatif signifikan dan bahkan bisa menjungkalkan mereka ke jurang kemiskinan karena pengasilannya tidak lagi mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya (basic needs).

Baca Juga :  Mendongkrak Perekonomian Kepri Berbasis Kegotongroyongan

Potret Inflasi Kepri
Sebagaimana telah dirilis oleh BPS Provinsi Kepri, tingkat inflasi Kepri hingga bulan Oktober 2017 yang dipantau melalui 2 kota, yaitu Batam dan Tanjungpinang, telah mencapai 3,16 persen.

Dengan capaian ini, bilamana target inflasi tahun ini sebesar 4 %, berarti Kepri tinggal punya ruang gerak 0,84 persen dalam 2 bulan terakhir yang dalam pengalaman tahun-tahun sebelumnya cenderung melambung di atas angka 1 %.

Bila diurai lebih rinci, komoditas pendorong inflasi bulan Oktober di Batam adalah kelompok bahan makanan (andilnya 0,33 %) dan komoditas tarif dasar listrik (andilnya 0,34 %).

Sementara itu, inflasi di Kota Tanjungpinang relatif terkendali dan bahkan terjadi deflasi sebesar 0,02 persen sebagai dampak dari terkendalinya kelompok komoditas bahan makanan (-0,02 %) dan juga sandang (-0,03 %).

Dengan capaian seperti tersebut di atas, diperlukan upaya kerja keras dan sinergis antarorganisasi perangkat daerah (OPD) terkait dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) provinsi dan kabupaten/kota agar target inflasi Kepri yang telah ditetapkan, tidak terlampaui.

Dalam kaitan ini, BPS Provinsi Kepri telah mencoba memberikan “kompas dan pelita” atau tuntunan kongkret tentang pengawalan komoditas yang potensial mendorong inflasi di bulan Desember pada High Level Meeting TPID di ruang rapat utama kantor Gubernur, 30 November lalu.

Pada kesempatan tersebut, Kepala BPS Provinsi Kepri menguraikan 20 komoditas pendorong inflasi yang harus segera digegas kegiatan aksinya bilamana inflasi Kepri tidak rela meroket di atas angka target.

Beberapa komoditas krusial adalah angkutan udara, beras, bawang merah, bayam, telur ayam ras, daging sapi, kangkung, bawang putih, cabai rawit, cabai hijau, kacang panjang, ketimun, dan sawi hijau.

Bilamana ada komoditas yang harus didatangkan dari luar Kepri, maka segeralah dilakukan kontak dagang dan bilamana bisa diadakan di wilayah Kepri, gesalah pengadaannya agar suplai di pasar tersedia.

Selain itu, kelancaran saluran distribusi terutama dalam hal transportasi, harus menjadi perhatian serius bagi Dinas Perhubungan untuk memberikan prioritas terhadap kapal-kapal pengangkut komoditas-komoditas sembako.

Bahkan, sidak dan operasi pasar serta pasar murah sudah harus disegerakan agar gejolak harga dapat ditekan. Dan yang tidak kalah penting adalah sosialisasi imbauan kepada pedagang-pedagang di pasar untuk tidak mengambil kesempatan cari untung besar pada momentum perayaan hari keagamaan Natal dan jelang Tahun Baru.

Baca Juga :  Relevansi Pengenalan Lingkungan Sekolah

Inflasi si Pemiskin
Mungkin kebanyakan diantara kita yang tidak memahami sepak terjang inflasi akan bergumam, kok heboh bangat sih membicarkan inflasi yang hanya nol koma sekian persen setiap bulan? Paling-paling, angkanya hanya sedikit di atas 1 %, tapi kita semua heboh mendiskursuskannya. Ada apa dengan angka inflasi itu?

Sebagaimana telah diuraikan di atas, inflasi adalah si pencuri uang dan bahkan oleh penulis menyebutnya si Pemiskin Rakyat. Kok bisa? Dahsyat betul pengaruh inflasi itu.

Dalam ilustrasi yang telah diuraikan sebelumnya, sang buruh yang mempunyai uang seratus ribu rupiah mampu membeli beras 10 Kg dan menempatkan dia sedikit di atas garis kemiskinan.

Tetapi ketika harga bergejolak (terjadi inflasi) uangnya tersebut tidak lagi mampu untuk membeli 10 Kg beras tetapi tinggal 8 Kg yang hanya mampu memenuhi kebutuhan pangannya untuk 25 hari dan sisanya dia puasa tanpa makan sama sekali.

Pada kondisi seperti ini, maka orang tersebut tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan asupan kalorinya minimal 2.100 kilo kalori per hari.

Dan bila hal ini terjadi, maka Profesor Sayogyo mengatakan bahwa orang tersebut tidak akan mampu melaksanakan aktivitasnya secara normal dan dalam bahasa gamblangnya disebut miskin.

Seiring dengan ilustrasi di atas, apakah itu hanya contoh ilustratif atau fakta? Berdasarkan analisis statistik yang dilakukan oleh penulis sebagaimana telah disampaikan dalam rapat TPID di kantor Gubernur, dampak inflasi dalam memiskinkan penduduk di Kepri sangat jelas terurai.

Pada kesempatan tersebut ditampakkan bahwa ketika ada tekanan inflasi perkotaan selama periode September 2016 – Maret 2017 sebesar 1,28 persen, persentase jumlah penduduk miskin Kepri Perkotaan naik dari 4,99 % pada September 2016 ke angka 5,20 persen pada Maret 2017, atau bertambah 0,21 persen.

Selanjutnya, ketika tekanan inflasi di daerah perdesaan lebih besar dari daerah perkotaan, dampaknya dalam menambah jumlah penduduk miskin perdesaan, jauh lebih besar lagi.

Sebagaimana dilansir oleh BPS Provinsi Kepri, tingkat inflasi daerah Perdesaan selama periode yang sama adalah 1,81 persen. Dengan tekanan inflasi sebesar ini, persentase jumlah penduduk miskin daerah Perdesaan naik dari 10,47 % pada september 2016 ke angka 10,92 % pada Maret 2017, atau bertambah 0,45 %.

Baca Juga :  Pemimpin dalam Pandangan Islam

Secara relatif, pertambahan penduduk miskin daerah Perdesaan, lebih dua kali lipat dari pertambahan penduduk miskin Perkotaan. Dengan kata lain, Inflasi telah memiskinkan penduduk perdesaan jauh lebih besar dibandingkan mereka yang tiggal di daerah perkotaan.

Berdasarkan fakta empriris di atas, terlihat jelas betapa masalah inflasi adalah hal yang serius dan krusial untuk dijaga level dan kestabilannya.

Alpa dalam menanganinya, jangan kaget bila penduduk rentan miskin, yairu mereka yang berada sedikit di atas garis kemiskinan, bisa seketika terjungkal jatuh bebas ke lembah kemiskinan.

Jadi, waspadalah dengan geliat dan sepak terjang inflasi dengan menciptakan program-program aksi dalam mengawalnya sepanjang tahun.

Penulis telah memaparkan dalam berbagai kesempatan dimana bulan-bulan yang cenderung inflasi melambung, maka OPD terkait dan tim TPID bergegaslah merancang program pengendalian inflasi pada 2018 agar inflasi yang ditargetkan dalam RPJMD tidak terlampaui.

Hindari penciptaan progran aksi saat persoalan sudah di depan mata, pasti itu tidak akan berdampak signifikan. Ingat bahwa inflasi itu adalah ciptaan manusia dan tentunya dapat diatasi, atau oleh penulis menyebutnya, “Inflation is human made and indeed it can be overcome”.

Mari bahu membahu untuk menjaga level inflasi yang stabil dan rendah agar daya beli masyarakat berpenghasilan rendah tidak terpuruk.

Kestabilan inflasi pada level yang rendah, harus dijadikan sebagai obsesi dan komitmen Pemprov/Pemkab/Pemko dalam upaya untuk memberikan jaminan daya beli bagi uang yang dimiliki oleh masyarakat berpenghasilan rendah.

Bila tidak, maka harga-harga akan bergejolak dan tak terkendali, dan pada gilirannya akan”memangsa” masyarakat berpenghasilan rendah yang notabene jumlahnya 40 persen dan hanya menikmati “kue pembangunan” kurang dari 19 persen.

Dengan daya beli masyarakat yang kuat maka permintaan akan barang dan jasa akan tetap tinggi yang pada gilirannya akan menggerakkan roda perekonomian Kepri. Lebih jauh, para investor bisa merasa nyaman dan memiliki kepastian profit dalam menjalankan bisnis/investasinya.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here